LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Hatta: Indonesia tidak kalah makmur dari Malaysia

Indikatornya diperlihatkan dari jumlah kelompok kelas menengah di Indonesia yang lebih besar dari Malaysia.

2012-10-31 19:36:27
Hatta Rajasa
Advertisement

Hasil survei yang dirilis oleh lembaga survei asal Inggris, Legatum menyebutkan bahwa tingkat kemakmuran Indonesia naik 7 level dibandingkan tahun lalu. Kini, Indonesia di posisi 63.

Menurut laporan lembaga survei asal Inggris tersebut, di Asia Pasifik Indonesia berhasil mengalahkan India yang berada di posisi 101. Sementara dibandingkan negara-negara lain di dunia, Indonesia dianggap lebih makmur dibandingkan Rusia, Turki, Mesir, dan Venezuela.

Sayangnya, Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang berada di posisi 45, Vietnam yang berada di posisi 53, Thailand di posisi 56, dan Singapura di nomor 19.

Advertisement

Menanggapi hasil survei itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memiliki penilaian sendiri. Dia optimis Indonesia masih lebih baik dari Malaysia. Indikatornya diperlihatkan dari jumlah kelompok kelas menengah di Indonesia yang semakin besar.

"Kelas menengah kita meningkat sangat tajam. Sekarang kelas menengah kita 50 juta. Dua kali lipat dari Malaysia dan akan terus meningkat pada 2030 menjadi 135 juta," ujar Hatta saat melakukan kunjungan ke Malang, Jawa Timur, Rabu (31/10).

Menurutnya, saat ini, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia sudah di atas USD 6.000. "Dan rata-rata di 2025 sudah USD 16.000 pendapatan per kapita kita," jelasnya.

Advertisement

Tapi, Hatta juga mengingatkan ada tantangan besar yang akan dihadapi seiring dengan semakin tingginya daya beli masyarakat Indonesia. Yakni, ruang untuk produk impor menguasai pasar dalam negeri semakin besar.

Hatta menginginkan agar konsumsi dalam negeri bisa dipenuhi dari produk lokal. "Yang penting jangan sampai konsumen dengan daya beli yang kuat diisi barang impor. Kita harus mandiri. Harus lahir pengusaha-pengusaha dari Indonesia sendiri. Memproduksi kebutuhan kita jangan dimanfaatkan dunia impor," tegasnya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.