Hati-hati, Yuan China diramalkan bakal kembali anjlok
Para ahli khawatir pelemahan Yuan akan berdampak pada negara berkembang di Asia.
Ekonom CNN Money memprediksi nilai tukar Yuan China bakal kembali anjlok terhadap dolar Amerika (USD) sebelum akhir tahun ini. Bahkan, ekonom menyebut Yuan akan kembali anjlok hingga 2,8 persen terhadap USD pada akhir 2015 nanti.
Yuan sendiri telah anjlok 2,6 persen terhadap USD sejak Januari silam. Sebagian besar, pelemahan terjadi pada dua hari awal Agustus silam. Selain itu, anjloknya Yuan juga karena kebijakan China sengaja mendevaluasi hingga 2 persen.
Langkah pemerintah China mendorong kepanikan pasar mata uang dunia. Kemudian ini memicu gelombang spekulasi dan nilai tukar beberapa negara anjlok parah, termasuk Indonesia.
Melihat ke depan di 2016, salah satu ekonom CNN Money mengatakan Yuan bisa anjlok hingga 17,8 persen dari harga saat ini. Menurut ekonom, China kini menyesuaikan nilai tukar dengan pertumbuhan ekonominya yang melambat. Ketidakpastian bank sentral Amerika dalam menaikkan suku bunga acuan juga menambah kekhawatiran.
"Devaluasi lebih lanjut bisa memicu arus modal keluar dan ini akan memberatkan perekonomian," ucap Shen Jianguang dari Mizuho Securites seperti dilansir merdeka.com dari CNN di Jakarta, Selasa (15/9).
Menurutnya, banyak investor yang meninggalkan China untuk mencari simpanan yang lebih aman. Sekitar USD 36 miliar dana keluar dari China pada semester pertama tahun ini.
Perlambatan sektor properti, pasar saham yang bergejolak dan keuntungan perusahaan yang buruk serta ditambah lagi pelemahan Yuan telah memukul investor.
Para ahli khawatir pelemahan Yuan akan berdampak pada negara berkembang di Asia. Negara dengan volume ekspor besar ke China seperti Hong Kong, Malaysia dan Thailand bisa berdampak negatif. Ketakutan adalah bahwa ini akan melemahkan mata uang negara berkembang secara habis-habisan
(mdk/idr)