Harus bebaskan lahan, pengembangan Blok Masela di darat lebih mahal
"Selesainya lebih lama dua tahun, tahun 2026 kalau onshore, kalau yang offshore kan 2024," ujar Wirat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai, ongkos pengembangan Blok Masela akan lebih mahal apabila dilakukan di darat (onshore). Alasannya, pengembangan blok tersebut harus melakukan pembebasan lahan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), IGN Wiratmaja Puja mengatakan pemerintah akan membutuhkan waktu lebih panjang sebelum bisa membangun perangkat pengembangan blok gas abadi tersebut apabila harus melakukan pembebasan lahan.
"Onshore jadi mahal karena harus bebasin lahan. Lama karena banyak tanah harus dibebaskan. Paling hitungannya konsultan minimum beda dua tahun. Tahun 2026 kalau onshore, kalau yang offshore kan 2024," ujar Wirat di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (1/2).
Meski belum diputuskan pola pengembangan Blok Masela akan dilakukan onshore atau offshore, Wiratmaja mengatakan, pemerintah masih yakin investor blok tersebut yakni Inpex Corporation dan Shell, masih berminat untuk mengembangkannya. Kementerian ESDM belum menerima pernyataan pembatalan rencana investasi dari kedua perusahaan tersebut.
"Kita harus tanya mereka dulu. Tapi belum ada menyatakan tarik investasinya, belum. Cuma pilih dia investasi di belahan dunia. Tunda yang lain itu," pungkas dia.
(mdk/sau)