Harga minyak dunia merosot dipicu perselisihan dagang China-AS
Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun USD 0,76 menjadi menetap di USD 79,29 per barel di London ICE Futures Exchange.
Harga minyak dunia kembali turun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Penurunan harga terjadi karena investor kembali mengkhawatirkan dampak meningkatnya perselisihan perdagangan antara China dan Amerika Serikat terhadap pertumbuhan permintaan minyak dan data yang menunjukkan bahwa persediaan lebih dari cukup.
Patokan global, minyak mentah Brent telah jatuh hampir USD 8 per barel sejak mencapai tertinggi empat tahun di USD 86,74 pada 3 Oktober, melemah oleh prakiraan yang lebih rendah untuk pertumbuhan ekonomi global ketika Amerika Serikat dan China memberlakukan tarif pada miliaran USD dari barang-barang impor satu sama lain.
Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun USD 0,76 menjadi menetap di USD 79,29 per barel di London ICE Futures Exchange.
Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun USD 1,10 atau 1,6 persen, menjadi berakhir di USD 68,65 per barel di New York Mercantile Exchange.
"Pendorong sebenarnya dari koreksi ini adalah kekhawatiran seputar pertumbuhan permintaan dan isu-isu perdagangan," kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar untuk Tradition Energy di Stamford, Connecticut.
Pada 9 Oktober lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2018 dan 2019, sebagian karena ketegangan-ketegangan kebijakan perdagangan dan pengenaan tarif impor pada perdagangan. IMF memprediksi pertumbuhan global 3,7 persen pada 2018 dan 2019, turun dari perkiraannya pada Juli pertumbuhan 3,9 persen untuk kedua tahun tersebut.
Sebelumnya, Brent turun di bawah USD 79 per barel sehari setelah laporan Departemen Energi AS menunjukkan produsen-produsen minyak telah menempatkan 22 juta barel di tangki penyimpanan selama empat minggu terakhir.
Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam laporan mingguannya pada Rabu (17/10) bahwa stok minyak mentah negara itu naik 6,5 juta barel pekan lalu, jauh di atas ekspektasi pasar dan memperpanjang kenaikannya untuk empat minggu berturut-turut.
Kilang-kilang AS memasuki musim pemeliharaan, di mana pabrik-pabrik pengolahan minyak tidak beroperasi selama empat hingga enam minggu, juga membebani permintaan dan harga minyak mentah.
Para investor juga mengalihkan perhatian mereka terhadap kerugian yang akan datang pada ekspor minyak mentah Iran setelah Amerika Serikat memberlakukan kembali sanksi-sanksi pada awal November.
Arab Saudi mengatakan bulan ini, pihaknya akan meningkatkan produksi sebesar 300.000 barel per hari untuk membantu mengimbangi penurunan tajam ekspor minyak mentah Iran bulan depan.
Namun para investor tetap skeptis setiap negara memiliki kapasitas cadangan yang cukup untuk menebus kehilangan minyak mentah dari Iran, salah satu produsen terbesar Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), analis mengatakan.
Baca juga:
Harga minyak dunia terus naik dipicu kekhawatiran pasokan Iran dan Saudi
Pertamina 4 kali naikkan harga Pertamax Cs di 2018, ini faktanya
Tingginya penggunaan produk plastik dorong permintaan minyak dunia
Trump sesumbar Arab Saudi tak akan bertahan tanpa dukungan dari AS
Harga minyak turun tipis setelah sentuh titik tertinggi dalam 4 tahun
Bukan pelemahan Rupiah, Menko Luhut justru khawatirkan harga minyak dunia naik