Harga minyak dunia catatkan penurunan bulanan terbesar sejak 2016
Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun USD 1,34 menjadi menetap di USD 74,21 per barel di London ICE Futures Exchange. Kontrak September yang berakhir pada Selasa (31/7) ditutup pada USD 74,25.
Harga minyak bergerak turun pada Selasa (Rabu pagi WIB), menutup penurunan bulanan terbesar dalam dua tahun terakhir. Penurunan harga terjadi karena kekhawatiran pasokan setelah produksi OPEC mencapai tertinggi 2018 pada Juli, membayangi laporan bahwa Amerika Serikat dan China mungkin membuka kembali pembicaraan perdagangan yang dapat meningkatkan permintaan.
Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun USD 1,34 menjadi menetap di USD 74,21 per barel di London ICE Futures Exchange. Kontrak September yang berakhir pada Selasa (31/7) ditutup pada USD 74,25.
Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, merosot USD 1,37 menjadi menetap di USD 68,76 per barel di New York Mercantile Exchange.
Brent kehilangan lebih dari enam persen pada Juli, sementara minyak mentah AS merosot sekitar tujuh persen, penurunan bulanan terbesar untuk kedua acuan tersebut sejak Juli 2016.
Harga minyak memperpanjang kerugiannya dalam perdagangan pasca-penyelesaian, dengan minyak mentah AS pada USD 68,32 per barel, setelah data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah domestik naik 5,6 juta barel pekan lalu.
Sebuah jajak pendapat Reuters memperkirakan stok turun 2,8 juta barel. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) akan dirilis pada Rabu waktu setempat.
Tanda-tanda bahwa gangguan pasokan di Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah dapat diselesaikan, telah menekan harga minyak selama sesi perdagangan, kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York.
Kelompok Houthi Yaman mengatakan pihaknya siap untuk secara sepihak menghentikan serangan di Laut Merah guna mendukung upaya-upaya perdamaian. Arab Saudi menangguhkan pengiriman minyak melalui selat minggu lalu setelah Huthi menyerang dua kapal tanker minyak Saudi.
Rusia dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkatkan produksi pada Juli, menurut survei produksi Reuters pada Senin (30/7). Survei menunjukkan anggota OPEC meningkatkan produksi pada Juli sebesar 70.000 barel per hari (bph) menjadi 32,64 juta bph, tertinggi untuk tahun ini.
"Kami sedang melihat beberapa produksi kembali beroperasi, sehingga membebani harga," kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago.
Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa harga minyak kemungkinan akan terus stabil tahun ini dan tahun depan, karena peningkatan produksi dari OPEC dan Amerika Serikat memenuhi peningkatan permintaan yang dipimpin oleh Asia dan membantu untuk mengimbangi gangguan pasokan.
OPEC telah berjanji untuk mengimbangi hilangnya pasokan dari Iran, produsen nomor tiga terbesar kelompok tersebut. Sanksi AS terhadap Iran sudah mulai memangkas ekspor minyak negara tersebut.
Iran mengatakan Presiden AS Donald Trump keliru mengharapkan Arab Saudi dan produsen minyak lainnya mengkompensasi kehilangan pasokan yang disebabkan oleh sanksi AS.
Pasar sebagian besar mengabaikan laporan bahwa AS dan Tiongkok dapat memulai kembali perundingan untuk meredakan perang dagang antara kedua negara. Berakhirnya perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung dapat meningkatkan permintaan pasar minyak secara keseluruhan.
Baca juga:
Ekonom nilai harus ada perubahan APBN 2018, ini sebabnya
Rupiah melemah & harga minyak naik, subsidi listrik 2018 diprediksi tembus Rp 59,9 T
Harga minyak dunia naik didukung sinyal meningkatnya permintaan
Libya kembali buka pelabuhan ekspor, harga minyak dunia terjun bebas
Harga minyak dunia naik dipicu laporan proyeksi energi EIA
Ini tantangan besar pemerintah jaga perekonomian di kuartal II 2018