Harga minyak anjlok, ESDM akui tak dapat untung jual minyak mentah
Namun, ESDM bersyukur industri hulu migas tanah air tak kolaps.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan penurunan harga minyak dunia hingga di bawah USD 30 per barel tidak hanya mempengaruhi harga minyak di sektor hilir, namun juga mempengaruhi harga di sektor hulu. Penurunan harga minyak dunia ini bikin pemerintah tak mendapatkan keuntungan dari penjualan minyak mentah.
Untuk itu, pemerintah berharap agar harga minyak dunia bisa kembali naik, mengingat antara biaya produksi dengan keuntungan yang diambil saat ini hanya berbanding tipis.
"Perkiraan dari kondisi sekarang bisa USD 35 per barel. Tapi harapan kita yang mewakili kegiatan operasi di hulu migas bisa diatas USD 50 per barel agar bisa nyaman untuk kegiatan hulu," ujar Direktur Pembinaan Program Migas Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agus Cahyano Adi dalam diskusi Energi Kita yang digagas merdeka.com, RRI, Sewatama, IJTI, IKN dan IJO di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (14/2).
Pada 2014, kata Agus, usaha di sektor hulu migas bisa mendapat keuntungan hingga USD 100 per barel. Namun dengan adanya penurunan harga minyak dunia, usaha hulu migas hanya mendapat keuntungan sebesar USD 30 per barel.
"Sementara biaya produksi investasi sudah dilakukan beberapa tahun. Ada biaya pengembangan. Sekarang sedang dilakukan efisiensi super ketat," kata dia.
Meski begitu, Agus bersyukur sektor hulu migas tidak akan mengalami kolaps. "Ini bedanya industri migas. Kalau produk kan kontrak jangka panjang pakai angka. Kalau minyak tidak, kontrak jangka panjang dikaitkan dengan harga publikasi. Misal menggunakan brand itu yang berfluktuasi," pungkas dia.