Harga jual listrik EBT dinilai masih rendah, rugikan pengusaha
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Suryadharma menilai, kebijakan harga jual listrik EBT masih rendah dan justru merugikan pengusaha. Sehingga, dia mengimbau agar pemerintah bisa meningkatkan harga jual listrik tersebut untuk menarik investor.
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Suryadharma mengatakan untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen di 2025, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakannya yang menarik minat investor.
Dia menilai, kebijakan harga jual listrik EBT masih rendah dan justru merugikan pengusaha. Sehingga, dia mengimbau agar pemerintah bisa meningkatkan harga jual listrik tersebut untuk menarik investor.
"Harus memberikan daya tarik lah. Bisa dari harga. Harganya tinggi dia (pengusaha) dapat untung, keuntungan nya dikenakan pajak," kata Surya ketika ditemui di Jakarta, Kamis (15/3).
Selain itu, Pemerintah perlu juga memberikan insentif kepada para pengusaha yang sudah berinvestasi di sektor EBT. "Insentif misalnya, kayak di Abu Dhabi itu orang mengembangkan energi Surya itu dia tidak dikenakan pajak perusahaan. Artinya kewajiban penyetoran pajak perusahaan 25 persen atau 30 persen itu tidak ada," imbuhnya.
Dengan adanya kebijakan semacam perbaikan harga jual listrik EBT dan pemberian insentif, maka pengusaha akan lebih terjamin usahanya dan juga lebih cepat balik modal yang telah diinvestasi.
"Bisa sangat sulit untuk bisa mengembalikan modal ya. Atau mengembalikan modal dengan waktu yang sangat lama. Kalau sangat lama, bank juga nggak mau. 6 sampai 7 tahun kembali ya. Kalau kembalinya 20 sampai 25 tahun. Jangan-jangan orang itu sudah nggak ada lagi," tandasnya.
Baca juga:
2019, PLN bangun 2 pembangkit listrik tenaga panas bumi di NTT
Indonesia raih penilaian C di dunia pada aspek tarif listrik yang terjangkau
Hutama Karya bakal bangun PLTS di jalan tol di Sumatera
Selain listrik alternatif, Bulgaria tertarik kelola sektor pariwisata Indonesia
ESDM gandeng ITS kembangkan mobil listrik hingga teknologi smelter