Harga beras melonjak, pedagang bantah jadi biang kerok
"Kami tidak menimbun beras. Kami juga mengalami penurunan omzet hampir dua pertiga."
Pedagang beras membantah jadi biang kerok melonjaknya harga beras belakangan ini. Mereka menyebut penaikan harga beras murni lantaran seretnya pasokan dari daerah penghasil.
"Kami tidak menimbun beras. Kami juga mengalami penurunan omzet hampir dua pertiga," ujar Ayong, pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Selasa (24/2).
Ayong mengaku hanya mendapat pasokan beras sebesar 10 juta ton per hari. Turun dari biasanya 30 juta ton per hari.
"Dari Sumedang barangnya tidak ada, panennya gagal, ya begini jadinya," jelas dia.
Hal senada diungkapkan Fauzan, distributor beras ke Pasar Induk Cipinang. Penaikan harga beras disebabkan oleh berkurangnya pasokan beras dari daerah.
Dia mencontohkan, saat ini, lahan padinya di Sumedang, Jawa Barat, hanya bisa menghasilkan 2 kuintal beras dalam sekali panen. Turun drastis dari biasanya 3 ton beras.
"Pasokannya memang lagi berkurang, karena panennya gagal. Jadi kemarin pas mau berbuah, terus hujan besar terus menerus," ungkapnya. "Kami tidak menimbun, panen saja selalu gagal."
(mdk/yud)