Harga BBM naik, harga pangan akan melonjak hingga Lebaran
Inflasi atau kenaikan harga akibat hari raya keagamaan mencapai 11 persen.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengakui kebijakan menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) subsidi memicu kenaikan harga pangan. Namun dia menegaskan bahwa hal itu sudah diprediksi dan bisa dikendalikan melalui manajemen stok.
Dia juga memastikan dengan kenaikan harga pangan itu, inflasi akan sedikit meningkat mulai akhir bulan ini.
"Stok (pangan) aman sudah tersedia. Ada kenaikan inflasi, tapi sudah diprediksi, dan bisa kita kendalikan," ungkap Hatta saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (20/6).
Tren kenaikan harga itu, menurut Hatta, tidak hanya disebabkan kenaikan harga BBM namun juga karena permintaan yang melonjak jelang bulan Ramadhan. Dari perhitungan Kemenko, inflasi atau kenaikan harga akibat hari raya keagamaan mencapai 11 persen.
"Jelang hari raya keagamaan, wajar jika harga-harga naik. Hari raya memberi 11 persen terhadap inflasi, oleh sebab itu kita rapat hari ini untuk menjaga supply dan stabilisasi harga" tandasnya.
Nyaris seluruh bahan pangan utama terpantau mulai naik, misalnya daging ayam, telur, beras, dan palawija. Meski dalam beberapa saat belum akan turun, Hatta menjamin kenaikan tidak melebihi batas atas yang sudah ditetapkan pemerintah agar inflasi akibat pangan tidak melonjak.
"Seluruh komoditas pokok kita memang mengalami kenaikan harga namun pada batas-batas yang normal seperti juga kalau menghadapi bulan-bulan Lebaran lain. Yang penting jangan terjadi inflasi terekspektasi karena spekulasi, pedagang berpikir jangan-jangan pasokan tidak cukup, akhirnya inflasi karena ketidakpastian, kita jamin volatile food tersedia," tegasnya.
Di sisi lain, Menteri Pertanian Suswono memastikan, pasokan bahan pangan yang paling rentan naik akan panen Juli, khususnya cabe. Cuaca yang masih hujan hingga pertengahan tahun dinilai merugikan sebagian petani saja.
"Ya pasti (cuaca) berpengaruh, ada plus minusnya, untuk padi barangkali bisa jadi menguntungkan, tapi kalau palawija kurang menguntungkan termasuk buah-buahan tidak berbuah. Tapi untuk saat ini mudah-mudahan bisa dioptimalkan. Untuk Ramadhan (cabe) panen sekarang ini, Juli ya bisa menutup kebutuhan," ungkap Suswono.
(mdk/bmo)