Harapan SKK Migas di balik tingginya harga minyak dunia
SKK Migas berharap, realisasi investasi WK eksplorasi di 2018 akan lebih baik dari sebelumnya seiring dengan naiknya harga emas hitam tersebut.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi memprediksi harga minyak dunia akan terus bergerak naik hingga USD 60 per barel. Kondisi ini akan berdampak positif pada iklim investasi migas Tanah Air.
Dia berharap, realisasi investasi WK eksplorasi di 2018 akan lebih baik dari sebelumnya seiring dengan naiknya harga emas hitam tersebut.
"Tahun lalu harga minyak USD 40 per barel, hari ini sudah USD 60 per barel. Bagi investor ini up size standing money, harga minyak naik, kita berharap eksplorasi bisa lebih giat lagi," ungkapnya di SKK Migas, Wisma Mulia, Jakarta Selatan, Jumat (5/1).
Untuk diketahui, dalam paparan 'Capaian Kinerja Hulu Migas Tahun 2017', SKK Migas mencatat realisasi investasi tahun 2017 sebesar USD 9,33 miliar dari kesepakatan dalam WP&B yang sebesar USD 12,29 miliar.
Dari jumlah tersebut, investasi untuk blok eksplorasi hanya sebesar USD 180 juta, sedangkan Investasi di blok eksplorasi sebesar USD 9,15 miliar.
Amien mengatakan, masih rendahnya investasi di WK eksplorasi berhubungan dengan perizinan. Jadi mulai dari studi, seismic hingga pemboran eksplorasi banyak berinteraksi dengan perizinan.
"Oleh karena itu, SKK Migas ke depan akan membantu K3S mempercepat menyelesaikan perizinan yang diurus," ujarnya.
Kemudian, eksplorasi jugas berhubungan dengan kondisi global salah satunya harga minyak dunia. "Kalau diharapkan berapa, tentu targetnya besar. Tapi kita harus realistis," tandas dia.
Baca juga:
Peningkatan cadangan migas 2017 tak capai target
Melebihi target, penerimaan negara dari hulu migas capai Rp 175 triliun
Kehadiran holding perkuat kinerja BUMN di industri migas Tanah Air
Ekonom: Holding BUMN Migas ciptakan masalah baru
Kuartal I 2018, pemerintah targetkan lelang 20 blok migas