LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Gubernur BI sebut Pemilu sebagai dukungan politik untuk ekonomi

Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya melek politik.

2014-04-09 15:02:00
Ekonomi Indonesia
Advertisement

Salah satu konsekuensi negara penganut sistem demokrasi adalah menggelar pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih pemimpin bangsa di masa mendatang. Minimal untuk lima tahun ke depan. Pemilu sebagai bagian dari sistem politik tidak terpisahkan dari sistem perekonomian nasional.

Hal itu diakui Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo. Menurutnya, rakyat tidak bisa main-main dalam memilih calon pemimpinnya. Sebab, pemimpin Indonesia baik legislatif maupun eksekutif, punya peran penting menjadi nahkoda sebuah negara yang sangat besar.

Tidak dipungkiri, pemimpin Indonesia akan mendapat sorotan di dunia internasional. Agus Marto melihat, calon-calon pemimpin yang mulai unjuk gigi saat ini, kredibilitasnya cukup baik.

Advertisement

"Saya melihat semua optimis bahwa Indonesia bisa memilih yang baik dan optimisme saya itu terlihat dari seminggu terakhir ini bahwa calon-calon di legislatif atau calon di pimpinan pemerintahan dan negara ada nama-nama yang diharapkan baik oleh masyarakat nasional maupun internasional," ujar Agus Marto di kediamannya di Jalan Tirtayasa, Jakarta, Rabu (9/4).

Menurutnya, kondisi tersebut bakal mempengaruhi ekonomi. Jika Pemilu berjalan baik, dipastikan membawa dampak positif pada perekonomian nasional. Terlebih jika pemimpin nasional yang terpilih sesuai kehendak rakyat dan diapresiasi dunia internasional.

"Jadi kelihatan dukungan terhadap kegiatan ekonomi Indonesia baik di pasar keuangan, pasar modal ataupun dalam indikator-indikator ekonomi lainnya," ucapnya.

Advertisement

Sayangnya harus diakui bahwa itu tidak mudah mengingat masyarakat Indonesia belum sepenuhnya melek politik. Gempuran partai politik dan visi misi calon pemimpin di ruang publik hingga di ranah media sosial tidak sepenuhnya bisa diterima di semua lapisan masyarakat. Hanya kalangan tertentu saja.

"Kita harus mengakui bahwa masyarakat Indonesia besar tapi pendidikan belum tinggi jadi risiko ada. Kita harus dapat meyakinkan masyarakat Indonesia melek politik," katanya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.