LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Gubernur BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2023 Lebih Rendah Dibanding Dua Tahun Lalu

Jika dibandingkan 2 tahun lalu, kondisi ekonomi Indonesia diperkirakan melemah. Padahal di tahun 2021, ekonomi Indonesia yang tumbuh 5 persen dan tahun 2022 tumbuh 5,3 persen.

2023-03-28 15:51:23
Pertumbuhan Ekonomi
Advertisement

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 sebesar 4,6 persen sampai 4,7 persen.

"Tahun ini kami berekspektasi di 4,6 persen hingga 4,7 persen," kata Perry saat membuka acara High Level Seminar From Asean to the World: Payment System in Digital Era di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) , Nusa Dua, Bali, Selasa (28/3).

Jika dibandingkan 2 tahun lalu, kondisi ekonomi Indonesia diperkirakan melemah. Padahal di tahun 2021, ekonomi Indonesia yang tumbuh 5 persen dan tahun 2022 tumbuh 5,3 persen.

Advertisement

"Pertumbuhan ekonomi kami di 5,3 persen (tahun 2022) salah satu yang tertinggi di dunia," ungkap Perry.

Meski begitu, Perry optimis kondisi ekonomi Indonesia akan kembali pulih di tahun 2024. Dia yakin ekonomi bisa kembali gagah dengan tumbuh ke level 5,6 persen tahun depan. "Dan bisa meningkat hingga 5,6 persen di 2024," katanya.

Sebagai informasi, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat tajam menjadi 1,7 persen pada 2023. Laju ekspansi terlemah ketiga dalam hampir tiga dekade dan 1,3 poin persentase lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Advertisement

"Pertumbuhan global telah melambat sejauh ekonomi global hampir jatuh ke dalam resesi hanya tiga tahun setelah keluar dari resesi yang disebabkan pandemi pada 2020," kata laporan setengah tahunan Prospek Ekonomi Global bank, dikutip Antara, Rabu (11/1) lalu.

Tak hanya itu, kondisi ini juga disebabkan pengetatan kebijakan moneter untuk mengatasi inflasi dan perang Rusia di Ukraina meredam prospek.

Amerika Serikat, kawasan Eropa, dan China semuanya mengalami periode kelemahan yang nyata. Lembaga yang berbasis di Washington itu juga mengatakan guncangan negatif lebih lanjut.

Termasuk inflasi yang lebih tinggi, kenaikan suku bunga yang tiba-tiba untuk menahannya, dan kebangkitan kembali pandemi Covid-19, bisa mendorong ekonomi global ke dalam resesi.

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.