Gubernur Anies Positif Covid-19, Pengusaha Nilai Tak Berdampak ke Ekonomi Jakarta
Yusran menilai pil pahit ini tidak akan berdampak buruk bagi ekonomi DKI Jakarta. Mengingat kondisi kesehatan Gubernur Anies dalam kondisi baik, sehingga tidak akan mengganggu berbagai program pemulihan ekonomi ibu kota.
Wakil Sekretaris Jendral Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran turut mengaku prihatin atas kabar buruk yang menimpa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menyusul orang nomor satu di ibu kota Jakarta itu terkonfirmasi positif Covid-19.
Namun, Yusran menilai pil pahit ini tidak akan berdampak buruk bagi ekonomi DKI Jakarta. Mengingat kondisi kesehatan Gubernur Anies dalam kondisi baik, sehingga tidak akan mengganggu berbagai program pemulihan ekonomi ibu kota.
"Kita turut prihatin. Tapi, saya rasa sih tidak mengganggu ekonomi sih karena semoga pak gubernur (Anies) kan OTG, maka masih bisa beraktivitas dengan baik. Jadi, kalau gitu rasanya program pemulihan ekonomi Jakarta masih oke," ujar dia saat dihubungi Merdeka.com, Selasa (1/12).
Terlebih, sambung Yusran, saat ini Pemprov DKI Jakarta telah melakukan transformasi digitalisasi dengan baik. Alhasil koordinasi antara Gubernur Anies dan jajarannya menjadi lebih mudah kendati tidak bertemu secara tatap muka langsung.
"Dengan proses transformasi digitalisasi Pemprov (DKI Jakarta) yang sudah berjalan baik harusnya sih oke-oke saja. Koordinasi juga lebih mudah kan kendati ada karantina mandiri," terangnya.
Lebih lanjut, Yusran menganggap peluang kembali diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di ibu kota sangat kecil. Khususnya setelah tidak ada efektivitas langsung dari pemberlakuan PSBB terhadap penurunan angka positif Covid-19 di Jakarta.
"PSBB kembali juga saya rasa kecil terjadi. Karena memang kita rasakan belum terlalu efektif. Apalagi kasus positif Covid-19 juga masih tinggi dan pelanggaran atas protokol kesehatan juga banyak oleh masyarakat," paparnya.
Tingkatkan Kesadaran Warga
Untuk itu, pihaknya menilai saat ini lebih penting untuk meningkatkan kesadaran warga akan protokol kesehatan di masa kedaruratan ini. Sehingga mata rantai penularan virus mematikan asal China itu bisa segera diputus.
"Mendorong perubahan perilaku ini dibandingkan pengawasan melalui PSBB. Maka konsentrasi kita lebih baik untuk peningkatan kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan yang jauh penting. Salah satunya dengan kegiatan sosialisasi yang lebih berkualitas dan masif, serta kampanye protokol kesehatan 3M hingga ke unit terkecil masyarakat," tutupnya.
(mdk/idr)