FITRA sebut anak buah Dahlan hanya bebani uang negara
APBN terbebani dengan nilai pertambahan penyertaan modal ke BUMN sebesar Rp 154 triliun dalam kurun waktu 3 tahun.
Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengkritik keras kinerja perusahaan-perusahaan negara yang selama ini dinilai tidak memberikan kontribusi besar pada negara, malah membebani karena terus disuntik anggaran negara.
Sekjen FITRA Yenny Sucipto memaparkan, nilai penyertaan modal negara untuk perusahaan BUMN mencapai Rp 523,3 triliun di 2010. Nilai ini melonjak menjadi Rp 677,3 triliun pada Desember 2012. Nilainya hampir separuh dari total APBN.
"Artinya ada pertambahan nilai penyertaan modal negara terhadap BUMN sebesar Rp 154 triliun dalam kurun waktu 3 tahun," ujar Yenny di Jakarta, Minggu (15/12).
Di sisi lain, peran BUMN dinilai tidak seimbang dibandingkan dengan kucuran modal dari anggaran negara. Dari data FITRA, dalam kurun waktu 2010-2012, setoran BUMN kepada APBN hanya mencapai Rp 89 triliun. Nilai ini setara dengan 24 persen dari total laba BUMN sebesar Rp 358,4 triliun dalam kurun waktu 3 tahun.
Dengan komposisi kucuran dana negara untuk BUMN sebesar Rp 154 triliun dan setoran BUMN ke negara hanya Rp 89 triliun, Yenny menyebut ada jarak yang jauh antara peran dan suntikan modal. Besarnya Rp 65 triliun.
"Artinya BUMN tidak pernah memberikan kontribusi apapun terhadap APBN, sebaliknya APBN terbebani dengan nilai pertambahan penyertaan modal," tegasnya.
FITRA memaparkan, persentase kepemilikan saham negara yang di atas 51 persen total nilai saham sebesar Rp 677,4 triliun per 31 desember 2012 dengan rincian 30 sektor terdiri dari 141 BUMN sebesar Rp 656,7 triliun dan 5 BUMN di bawah pembinaan Kementerian Keuangan sebesar Rp 20,7 triliun.
(mdk/noe)