FHCI Connect Expert Series 5 Dorong Penguatan Keterlibatan Pegawai untuk Organisasi Kuat
FHCI Connect Expert Series 5 membahas pentingnya penguatan keterlibatan pegawai sebagai fondasi utama untuk membangun organisasi yang tangguh dan adaptif di masa depan.
Forum Human Capital Indonesia (FHCI) kembali menggelar FHCI Connect Expert Series 5, sebuah forum diskusi penting yang berfokus pada penguatan keterlibatan pegawai. Acara ini berlangsung di Menara BRILiaN, Jakarta Selatan, pada Rabu, 19 November 2025, dengan tema “From Engagement to Impact: Building Stronger Organizations through People Power”. Inisiatif ini bertujuan untuk mendorong perusahaan, khususnya BUMN, agar lebih proaktif dalam memahami dan merespons kebutuhan karyawannya.
Diskusi tersebut menyoroti bahwa citra perusahaan yang kuat tidak hanya bergantung pada employer branding semata, tetapi juga pada fondasi internal yang kokoh. Pengelolaan sumber daya manusia yang konsisten dan adaptif menjadi kunci utama dalam menarik serta mempertahankan talenta terbaik. Para pakar menekankan bahwa keterlibatan pegawai yang tinggi akan berdampak langsung pada kinerja dan daya saing organisasi dalam jangka panjang.
Para peserta, termasuk jajaran direksi dan manajer human capital BUMN, hadir secara luring dan daring untuk mendalami strategi pengelolaan SDM yang efektif. FHCI berharap forum ini dapat memperkuat kolaborasi lintas BUMN dalam menciptakan budaya kerja yang inovatif. Hal ini penting untuk memastikan setiap organisasi mampu beradaptasi dengan dinamika pasar tenaga kerja yang terus berkembang.
Membangun Fondasi Kuat: Employer Branding dan Generasi Milenial
Direktur Human Capital & Compliance PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Ahmad Solichin Lutfiyanto, menjelaskan bahwa employer branding yang terlihat di permukaan harus ditopang oleh fondasi kuat. Fondasi tersebut meliputi employee value proposition, budaya kerja, dan kualitas pengalaman pegawai. Menurutnya, “Kalau bagian bawahnya tidak kuat, citra yang muncul juga rapuh,” menegaskan bahwa citra perusahaan tidak dapat berdiri sendiri tanpa pengelolaan internal yang konsisten.
Ahmad juga menyoroti perubahan demografi tenaga kerja di BRI, di mana sekitar 70-80 persen dari lebih 120 ribu pekerja berasal dari generasi milenial dan Z. Kondisi ini menuntut pendekatan baru dalam pengelolaan SDM. Ia menjelaskan, “Kita tidak bisa mengharapkan pola pikir mereka sama seperti generasi sebelumnya. Mereka melihat purpose perusahaan, budaya kerja, dan kualitas pengalaman. Gaji penting, tapi bukan satu-satunya faktor.”
Meskipun pasar tenaga kerja mungkin mengalami kelebihan pasokan, Ahmad menegaskan bahwa citra perusahaan tetap krusial. Reputasi sebagai tempat kerja yang kredibel adalah daya tarik utama bagi top talent. “Kalau perusahaan ingin menarik top talent, reputasi sebagai tempat kerja yang kredibel tetap harus dibangun. Ini soal daya saing jangka panjang,” tambahnya, menekankan investasi pada SDM sebagai strategi vital.
Tindak Lanjut Survei Keterlibatan Pegawai untuk Dampak Nyata
Chief People Officer PT Global Tiket Network (Tiket.com), Dudi Arisandi, menekankan pentingnya tindak lanjut hasil survei keterlibatan pegawai agar memberikan dampak nyata. Menurut Dudi, survei hanyalah alat; yang membedakan organisasi hebat dan biasa adalah tindakan konkret. “Masukan pegawai harus direspons cepat dan diterjemahkan menjadi perbaikan yang konkrit,” ujarnya, menggarisbawahi bahwa respons cepat adalah kunci.
Dudi juga mengungkapkan bahwa banyak pegawai masih meragukan apakah hasil survei benar-benar ditindaklanjuti oleh perusahaan. Keraguan ini dapat merusak kepercayaan jika tidak ada follow up yang jelas. “Kalau tidak ada follow up, survei hanya jadi formalitas dan bisa merusak kepercayaan,” kata Dudi, menekankan perlunya transparansi dan tindakan nyata setelah survei dilakukan.
Diskusi ini dipandu oleh Direktur SDM dan Kelembagaan PT Kereta Api Indonesia (Persero), Atih Nurhayati, dan diharapkan dapat mendorong praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya manusia. FHCI berharap forum ini dapat memperkuat kolaborasi antar BUMN dalam membangun lingkungan kerja yang adaptif, berorientasi pada pengembangan, dan mampu memberdayakan setiap individu di dalamnya.
Sumber: AntaraNews