Faisal Basri: Dalam konsep holding, rencana BUMN banyak ngaconya
"Seperti diantaranya ingin bank syariah BUMN konsolidasi, padahal share-nya hanya 20 persen."
Ekonom Faisal Basri mengkritik rencana pemerintah yang ingin menggantikan Kementerian BUMN dengan perusahaan induk atau super-holding. Untuk itu, menurutnya, pemerintah kudu memiliki konsep matang sehingga nantinya tidak gugur di tengah jalan.
"Dalam konsep holding memang banyak ngaconya ini rencana BUMN. Seperti diantaranya ingin bank syariah BUMN konsolidasi. Padahal bank syariah BUMN sharenya hanya 20 persen dari total perbankan," ujarnya di Jakarta, Sabtu (6/8).
"Coba dilihat ini holding ini mau bikin super holding, tidak jelas. Minta sama Ibu Rini rencana induknya ada tidak? Jangan setiap hari berubah terus, ngeri jalannya."
Menurut Faisal, pemerintah semestinya terlebih dulu fokus menggabungkan bank pelat merah, semisal Bank Rakyat Indonesia dengan Bank Mandiri. Dengan begitu, bank pelat merah menjadi siap menghadapai persaingan global.
"Nantinya kedua perbankan tersebut dapat memiliki aset cukup besar dan masyarakat mampu mendapatkan bunga yang rendah," katanya.
"Sekarang di bisnis yang penting itu sinergi dan sinkronisasi. Pertamina punya gas, PGN punya gas yang saat ini tidak sinkron lalu disinkronkan."
Baca juga:
Terminal 3 Soekarno-Hatta beroperasi, Damri tambah 30 bus
PLN jamin proyek reklamasi tak ganggu pasokan listrik Jakarta
Pelindo I: Pelabuhan Malahayati operasi, tol laut sudah sampai Aceh
Menhub Budi beberkan sejumlah pekerjaan rumah bos AP II terpilih
Medio Agustus, izin konstruksi kereta cepat keluar seluruhnya
Ini hasil pertemuan Menteri Rini dengan Menhub Budi selama dua jam