Ekplorasi migas di Indonesia dinilai punya masa depan cerah
Iklim eksplorasi migas di Indonesia dianggap masih memiliki masa depan cerah, terutama pada eksplorasi di laut. Dengan bantuan Pra Tersier dan penerapan teknologi seismik multi-channel, membantu pengolahan datanya semakin canggih dengan metode Big Data.
Iklim eksplorasi migas di Indonesia dianggap masih memiliki masa depan cerah, terutama pada eksplorasi di laut. Dengan bantuan Pra Tersier dan penerapan teknologi seismik multi-channel, membantu pengolahan datanya semakin canggih dengan metode Big Data.
Hal itu diungkapkan Indroyono Soesilo, Mantan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman. Dalam keterangannya, dia juga menyebut Indonesia sudah bergerak dalam memajukan energi baru terbarukan.
"Di samping itu, kita juga mulai bergerak ke bidang-bidang geologi nonkonvensional seperti energi baru dan terbarukan, seperti geothermal, issue perubahan iklim dan mitigasi bencana," katanya.
Indroyono juga mengatakan untuk wilayah Busur Kepulauan Indonesia, tempat bertumbukkan tiga lempeng tektonik ini. Bahkan ilmu kebumian nampaknya akan terus maju dan berkembang dan akan menjadi rujukan para ahli kebumian dunia.
Sehingga, peraih Doctor of Philosophy in Geologic Remote Sensing dari University of Iowa-USA itu, Indonesia tetap akan berperan besar, asal selalu awas dan waspada mengikuti perkembangan zaman.
Atas kemampuannya ini, Indroyono juga mendapat penghargaan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 2017. Penghargan ini atas jasa, karya dan sumbangsihnya kepada nusa dan bangsa di Bidang Eksplorasi dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Indonesia.
"Terima kasih atas penghargaan IAGI 2017, saya selau siap untuk berdampingan bersama Anda semua guna, untuk maju bersama menyongsong masa depan Indonesia yang semakin cerah," ungkapnya.
Untuk diketahui, Indroyono adalah perintis penerapan teknologi penginderaan jauh di Indonesia untuk eksplorasi mineral dan migas, inventarisasi sumberdaya alam, perencanaan wilayah dan kota, penanggulangan kebakaran hutan serta aplikasi kelautan dan perikanan.
Ada 13 buku dan jurnal ilmiah berhasil ia terbitkan dan menjadi koleksi perpustakaan-perpustakaan dunia, di antaranya di US Library of Congress, Washington DC, di FAO Library-Rome dan di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Dia memperoleh gelar Profesor Riset BPPT pada tahun 1995.
Baca juga:
Menhub Budi yakin asas cabotage tak buat investor kabur dari RI
Menhub: Sebelum ada asas cabotage, layanan laut RI dipenuhi kapal asing
Pemerintah Jokowi cari masukan percepat kemajuan industri maritim nasional
Ini penyebab kecilnya kontribusi sektor maritim ke perekonomian RI
53 Militer AL berbagai negara kumpul di Bali bahas keamanan maritim
Pertama kalinya, Indonesia akan susun indikator ekonomi maritim
Jepang hibahkan sistem lalu lintas laut Rp 172 M ke RI