Ekonom pesimis IHSG dan Rupiah tetap kuat jika Jokowi Presiden
Penguatan IHSG dan Rupiah sebelum Pemilu belum tentu bisa bertahan usai Pemilu.
Suhu politik dalam negeri semakin panas setelah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyatakan diri siap bertarung dalam pemilihan presiden. Pernyataan tersebut disebut-sebut ikut mempengaruhi kondisi perekonomian nasional.
Investor asing mengalirkan dananya ke pasar saham hingga Rp 7,48 triliun sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) bertengger di level 4.878 sesaat setelah Jokowi dan PDIP mengeluarkan pernyataan resmi. Pun demikian pada kondisi Rupiah yang ikut menguat ke level Rp 11.356 per USD.
Ekonom melihat gejala ini sebagai hal biasa. Sentimen politik jelang Pemilu selalu mendorong perbaikan kondisi pasar saham dan Rupiah. Itu juga terjadi jelang Pemilu 2009. Hanya saja, Direktur INDEF Enny Sri Hartati meragukan kondisi itu akan bertahan usai Pemilu.
"Berbedalah kondisi pemilu sekarang dengan pemilu 2009. Di mana, tahun 2009 tidak terjadi defisit transaksi berjalan, tekanan inflasi. Sedangkan pemilu tahun ini kebanyakan para investor sudah mengetahui hasilnya sehingga menjadi unggul dalam peta dinamika ekonomi tapi meski begitu ini bisa berubah," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Sabtu (15/3).
Menurutnya, sebelum pemilu investor asing cenderung menyimpan harapan akan perbaikan kondisi ekonomi. Kondisinya menjadi berbeda jika usai Pemilu, tokoh yang diharapkan justru tidak mampu membawa angin segar. Pencapresan Jokowi dan penguatan pasar saham jadi salah satu gambarannya. Di balik itu, pelbagai spekulasi bermunculan seiring pencapresan Jokowi. Termasuk spekulasi di bidang ekonomi.
"Karena pencapresan ini masih banyak sentimen politik. Persoalannya ini kan membicarakan kepemimpinan nasional, tidak mungkin mengandalkan figur Jokowi itu sendiri," tegasnya.