Ekonom: 2020 Tidak Akan Terjadi Resesi, Kecuali di China
Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tumbuh hingga 2,2 persen, sementara China akan menderita. China, sebagai negara yang mengandalkan ekspor, akan jadi negara paling awal yang rubuh karena kondisi ekonomi global yang melemah.
Kondisi ekonomi dunia semakin tidak pasti. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang tak kunjung usai jadi penyebab utamanya, bahkan diperkirakan akan meluas hingga Uni Eropa.
Meski demikian, ekonom BNI Ryan Kiryanto memprediksi, ekonomi global akan baik-baik saja tahun 2020 mendatang. Bahkan, pertumbuhan ekonomi beberapa negara diprediksi naik.
"2020, tidak akan terjadi resesi. Beberapa negara akan recover untuk tahun depan, kecuali China," ujar Ryan di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (9/11).
Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tumbuh hingga 2,2 persen, sementara China akan menderita. China, sebagai negara yang mengandalkan ekspor, akan jadi negara paling awal yang rubuh karena kondisi ekonomi global yang melemah.
"Ketika ekonomi global baik, sah-sah saja mempertahankan ekspor, tapi ketika melemah, maka negara yang pertama akan menderita adalah negara yang mengandalkan ekspor," imbuh Ryan.
Inggris Terancam Resesi
Sementara, Britania Raya (Inggris) akan mengalami resesi jika tidak segera mencapai kesepakatan dengan 27 negara Uni Eropa hingga Januari 2020 mendatang.
"Kalau no deal, maka ekonomi UK (United Kingdom) akan tumbuh -1 persen," tuturnya.
Untuk Indonesia, karena tidak terlalu terlibat banyak ekspor dan masuk ke dalam lingkaran global supply chain, tidak akan terlalu terpengaruh.
"Untuk kita, kita akan tumbuh, more or less, di angka 5 persen," ujarnya.
Reporter: Athika
Sumber: Liputan6.com
(mdk/idr)