Efisiensi Biaya Operasional, Garuda Indonesia Bakal Tawarkan Pensiun Dini ke Karyawan
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan maskapai telah melakukan berbagai upaya untuk merespon dampak pandemi Covid-19. Pernyataan itu disampaikannya saat menggelar rapat kerja Bersama Komisi VI DPR RI di Komplek Parlemen.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan maskapai telah melakukan berbagai upaya untuk merespon dampak pandemi Covid-19. Pernyataan itu disampaikannya saat menggelar rapat kerja Bersama Komisi VI DPR RI di Komplek Parlemen.
"Inisiatif yang dilakukan untuk mengelola gap antara total pendapatan dan biaya operasional perusahaan selama Covid-19, terbagi dalam jangka pendek dan perbaikan fundamental jangka panjang," ujarnya.
Irfan mengatakan untuk inisiatif jangka pendek terdapat enam cara yang dilakukan oleh maskapai. Pertama, Optimalisasi pendapatan non penumpang, yakni dengan meningkatkan pendapatan dari layanan cargo dan charter.
"Seperti untuk obat-obatan, alat bantu medis, dan alat kesehatan lainnya. Sedangkan untuk charter, yaitu penerbangan repatriasi warga negara asing ataupun Indonesia dari dan ke Indonesia," jelasnya.
Kedua, Efisiensi biaya dengan melakukan pemotongan anggaran yang tidak memiliki nilai tambah. Ketiga, Penundaan pembayaran sewa pesawat. Keempat, Penundaan pembayaran kepada pemasok Avtur, Maintenance, dan Jasa Kebandarudaraan.
Kelima, Pemotongan gaji karyawan unpaid leave dan penawaran program pensiun dini secara sukarela. Ke enam, restrukturisasi dengan penjadwalan ulang jatuh tempo. Yakni maskapai pelat merah ini menentukannya pada 3 Juni 2023.
Inisiatif Jangka Panjang
Sementara itu, insiatif jangka panjang yang dilakukan Garuda tercatat ada lima poin. Pertama, Hard block strategy dengan agen domestik maupun internasional. Kedua, Code share and interline aggrement. Yakni maskapai berupaya meningkatkan market share dan destinasi tujuan ke berbagai negara.
Ketiga, Alih fungsi pesawat penumpang untuk layanan cargo dengan memanfaatkan space kabin pesawat. "Namun, untuk barang dibawah 70 kilogram kita bisa tempatkan di kursi penumpang," imbuh dia.
Keempat, Optimalisasi pendapatan umroh dengan membuka penerbangan dari daerah di luar Jakarta. Seperti Palembang, Surabaya dan Ujung Pandang.
Terakhir, Restrukturisasi sewa pesawat. Dimana maskapai melakukan lease extension untuk mendapatkan penurunan sewa pesawat dan terminasi kontrak sewa pesawat yang tidak maksimal.
(mdk/azz)