LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Diskusi anti-rokok, narasumber kompak pakai masker

"Masih ada RUU Tembakau. Kalau DPR majukan, perjuangan ini akan diteruskan. Kita gugat DPR, karena kita bukan pejuang industri."

2016-12-13 14:13:21
Industri Rokok
Advertisement

Solidaritas Advokat Publik untuk Pengendalian Tembakau Indonesia (SAPTA) melakukan aksi pakai masker sepanjang jalannya diskusi "MA Perintahkan Menteri Perindustrian RI cabut Peta Jalan Produksi Rokok". Hal tersebut dilakukan sebagai respons atas RUU Pertembakauan yang akan masuk dalam Prolegnas di DPR.

Penasehat Komnas Pengendalian Tembakau, Emil Salim yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, bila DPR memajukan RUU Pertembakauan dalam Prolegnas tahun 2017 maka akan dilakukan usaha lebih keras untuk mencegah generasi penerus tidak mengonsumsi rokok.

"Masih ada RUU Tembakau. Kalau DPR majukan, perjuangan ini akan diteruskan. Kita gugat DPR, karena kita bukan pejuang industri. Tapi selamatkan ruang ini, jangan dikacaukan oleh nikotin. Biarkan anak muda tumbuh bebas, berotak, bangun Indonesia sejahtera pada 2045," ujar Emil di Resto Bebek Bengil, Jakarta Pusat, Selasa (13/12).

Advertisement

Aksi pakai masker tolak RUU Tembakau Anggun ©2016 Merdeka.com

Emil mengingatkan, generasi muda saat ini jangan sampai dirusak dengan adanya RUU yang membuat produksi rokok terus meningkat. Sebab, rokok sangat berbahaya bagi kemampuan berpikir anak dalam masa pertumbuhan.

"Indonesia harus dipimpin oleh anak Indonesia usia yang lahir tahun 2000-an. Nah ini kalau dirusak dengan rokok saya marah," ungkap Emil.

Advertisement

Emil menjelaskan, industri rokok memakai bahan baku tembakau yang di dalamnya terdapat nikotin. Zat nikotin tersebut memberi sifat kecanduan bagi penghisapnya, yang berpengaruh terhadap otak dan mengurangi daya kreatif.

"Nikotin menghancurkan daya kreatif, itu merusak otak. Jadi ada dua mainannya rangsang rasa senang, lahirkan kecanduan, dan merusak otak. Jika usia muda kita merokok, daya intelektualitas itu berhenti tumbuh. Maka akan bodoh," ujar Emil.

Baca juga:
Diam-diam, Sampoerna sudah naikkan harga rokok 11 persen
RUPS HM Sampoerna angkat Mindaugas Trumpaitis sebagai dirut anyar
Aksi puluhan petani tembakau geruduk Gedung DPR
Pemerintah diminta latih buruh rokok korban PHK berwirausaha
British American Tobacco luncurkan rokok tembakau elektrik

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.