Dirut PLN: Kami Butuh Investasi Rp3.000 Triliun dalam 10 Tahun
Transformasi besar ini bukan hanya soal menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan sistem energi nasional mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menyebut bahwa kebutuhan investasi untuk sektor ketenagalistrikan dalam 10 tahun ke depan mencapai Rp3.000 triliun. Angka jumbo ini diperlukan untuk menjalankan mandat transisi energi yang menuntut penyediaan listrik yang terjangkau sekaligus berkelanjutan.
"Nah dalam hal ini kami membutuhkan investasi sekitar Rp3.000 triliun selama 10 tahun. Dan untuk itu kita perlu membangun suatu ekosistem yang konsudif untuk berinvestasi," kata Darmawan dalam PLN CEO Forum, di ICE BSD, Rabu (26/11).
Ia menekankan bahwa transformasi besar ini bukan hanya soal menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan sistem energi nasional mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, penyediaan energi yang affordable menjadi faktor kunci dalam menarik investasi baru. Investasi tersebut nantinya akan menciptakan lapangan kerja yang luas, mengurangi kemiskinan, mengatasi kelaparan, dan memacu pemerataan ekonomi.
"Tentu saja saya sebagai Direktur Utama PT PLN Persero mendapatkan tugas yang berat. How are we going to be able to provide affordable energy. Kenapa? Karena dengan adanya affordable energy ini akan ada investasi baru,” ujarnya.
Darmawan juga menegaskan bahwa tugas PLN tidak hanya sebatas menyediakan listrik bagi kebutuhan industri dan masyarakat, tetapi juga menjaga daya saing nasional.
Oleh karena itu, ekosistem investasi harus dibangun secara strategis agar pembangunan infrastruktur kelistrikan dapat berjalan cepat dan efisien.
RUPTL Baru Soroti 76 Persen Pembangkit EBT dan Nuklir
Darmawan mengatakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru, PLN menyatakan bahwa 76 persen tambahan pembangkit dalam 10 tahun mendatang berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan nuklir.
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Transisi ini juga menjadi bagian dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca secara signifikan.
"Di saat yang bersamaan juga kami mendapatkan tugas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Maka tiga bulan lalu ada RUPTL, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Di mana penambahan pembangkit selama 10 tahun, 76 persennya adalah berbasis pada energi baru terbarukan dan juga nuklir," ujarnya.
Peran Danantara
Ia juga menyoroti peran pemerintah dan para CEO lintas sektor, termasuk Danantara sebagai induk holding energi, yang disebut siap mendukung penuh agenda besar ini.
Kolaborasi nasional dan internasional diperlukan, mengingat banyak teknologi dan pendanaan global yang harus diakses untuk mewujudkan transformasi energi.
"Tetapi saya tidak khawatir juga karena di sini ada atasan saya, CEO Danantara juga siap mendukung kami semuanya. Dan dalam hal ini juga dari pemerintah juga siap mendukung membangun ekosistem bagi semua untuk kita agar semuanya bisa lebih produktif dan bisa bekerja bersama-sama," pungkasnya.