Dirjen Bea Cukai akui terjadinya pergeseran perilaku perokok
Kebanyakan masyarakat lebih memilih rokok menggunakan filter dibandingkan kretek atau tanpa filter.
Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi menangkap terjadinya pergeseran atau perubahan tren perokok di Indonesia. Kebanyakan masyarakat lebih memilih rokok menggunakan filter dibandingkan kretek atau tanpa filter.
Perubahan ini berimbas pada perusahaan sigaret kretek tangan (SKT) atau rokok kretek. Mereka menjerit lantaran penjualannya lesu. Tidak heran jika akhirnya PT Sampoerna menutup dua pabriknya di Lumajang dan Jember beberapa waktu lalu.
"Salah satunya karena tren perokok sendiri yang sudah mulai memperhatikan faktor kesehatan," terangnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (4/7).
Namun masih ada beberapa perusahaan SKT yang berproduksi dengan perubahan kebijakan. Semua masih bergantung pada perusahaan masing-masing. "Kemungkinan ada perubahan pada produksi rokok," tutupnya.
Sebelumnya, Kenaikan pajak dan cukai membuat industri rokok terus tertekan. Tak ayal, jutaan orang yang menggantungkan nasib mereka di industri rokok bakal menjadi pengangguran.
Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan, industri rokok merupakan salah satu industri penyumbang pendapatan negara terbesar. Bahkan, jika dibandingkan dengan minyak dan gas bumi (migas), devisa negara industri rokok jauh lebih besar.
Baca juga:
Aturan rokok kemasan polos di Australia pukul daya saing Indonesia
PT Gudang Garam catat raup laba 2014 Rp 5,3 triliun
Ratusan petani tembakau demo Kedubes Prancis tolak rokok polos
Ajarkan balita perempuan merokok, orangtua ini dilaporkan ke KPAI
Mencoba e-rokok aneka rasa di Toko Henley Vaporium