LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Direktur Kartu Prakerja Ungkap Minimnya Literasi Digital Buka Celah Praktik Joki

Direktur Operasi Kartu Prakerja, Hengki Sihombing, mengatakan minimnya literasi digital masyarakat membuka celah jasa perjokian dalam program Kartu Prakerja. Munculnya joki dalam Kartu Prakerja ini karena ada peserta yang ingin ikut program tetapi memiliki keterbatasan dalam mengoperasikan sistem digital.

2020-10-14 16:01:01
Kartu Prakerja
Advertisement

Direktur Operasi Kartu Prakerja, Hengki Sihombing, mengatakan minimnya literasi digital masyarakat membuka celah jasa perjokian dalam program Kartu Prakerja. Munculnya joki dalam Kartu Prakerja ini karena ada peserta yang ingin ikut program tetapi memiliki keterbatasan dalam mengoperasikan sistem digital.

"Joki itu timbul karena memang ada yang mau ingin mendaftar ke website Kartu Prakerja, tapi dia tidak tahu," kata Hengki dalam Talk Show: Sinergi dalam Program Kartu Prakerja untuk Akselerasi Inklusi Keuangan, Jakarta, Rabu (14/10).

Hengki menilai joki dalam pengertian di atas sebenarnya tidak memiliki sisi kriminalitas. Sebab, joki tersebut hanya menawarkan jasa untuk mendaftarkan diri untuk ikut program Kartu Prakerja.

Advertisement

"Misalkan Anda mau daftar ke Kartu Prakerja, Anda bingung, tidak mengerti, saya tawarkan jasa. Jadi saya bantuin mendaftarkan Kartu Prakerja. Jika berhasil daftar, kasih uang saya Rp 50.000," tutur Hengki.

Joki ini pun nanti kembali membantu peserta program Kartu Prakerja saat proses pencairan insentif. Sebab, kata Hengki, prosesnya lebih sulit bagi mereka yang tidak memahami dengan baik teknologi.

"Lalu nanti saya bantu lagi untuk prses pencairan insentif, katrena yang namanya proses pencairan insentif itu lebih ribet," kata dia.

Advertisement

Untuk pencairan dana misalnya peserta harus membuat rekening bank atau mendaftarkan ke dompet digital. Lalu jika dompet digital belum QYC, maka peserta harus melakukan tahapan QYC. "QYC itu lebih complicated lagi karena harus upload KTP, swafoto, dan lain-lain," kata dia.

Masyarakat Menengah Kebawah Jadi Sasaran

Layanan inilah yang ditawarkan Joki yakni menjual jasa. Hal ini dipicu dari literasi masyarakat yang rendah atau mereka yang malas untuk melakukannya.

Di sini lain, melihat dari kelompok kalangan bawah yang menjadi sasaran, dia memperkirakan proses tersebut dianggap menyulitkan. "Kalau kita melihat mungkin kalangan bawah untuk mendaftar menggunakan email saja mungkin agak susah, apalagi menggunakan nomor telepon, verifikasi, ini mungkin susah untuk kalangan bawah," kata Hengki mengakhiri.

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.