Di Singapura tutup, bagaimana nasib Carrefour Indonesia?
Carrefour bisa bertahan di negara yang memiliki jumlah penduduk besar dan tingkat konsumsi yang tinggi.
Bisnis waralaba ritel asal Prancis, Carrefour diketahui telah menarik bisnisnya dari Singapura. Hal tersebut akan dilakukan pada akhir tahun ini. Carrefour mengatakan bahwa penutupan hipermarket tersebut tidak menunjukkan prospek ekspansi dan pertumbuhan yang tidak memungkinkan untuk mencapai kepemimpinan jangka panjang maupun jangka pendek.
Perusahaan yang telah masuk di Singapura sejak tahun 1997 itu sebelumnya telah berencana untuk menutup Carrefour cabang Singapura, Malaysia dan Thailand pada tahun 2010. Daily Farm Singapura mengatakan bahwa mereka bersedia mengambil alih tempat Carrefour di Plaza Singapura dengan membuka Giant hipermarket.
Jika Carrefour akhirnya undur diri dari Singapura, bagaimana nasib bisnis waralaba tersebut di Indonesia? Apakah Carrefour Indonesia akan bernasib sama dengan di Singapura? Head of External Communication and Corporate Social Responsibility Hendrik Adrianto mengaku, sejauh ini pihaknya belum mendengar kabar dari pemilik saham Carrefour di Prancis.
"Di Indonesia baik-baik aja. Belum ada informasi dari pemegang saham soal penutupan," ungkap Hendrik kepada merdeka.com, Rabu (29/8).
Sejauh ini, prospek bisnis waralaba Carrefour di Indonesia masih cukup cerah. Hendrik menuturkan, Carrefour bisa bertahan di negara yang memiliki jumlah penduduk besar dan tingkat konsumsi yang tinggi.
"Prospek bisnis memang cukup bagus dan menjanjikan. Hidup di penduduk jumlah banyak, konsumsinya tinggi, dan jumlah kalangan menengah ke atas juga besar," ujarnya. Sepengetahuannya, untuk kawasan Asia, hanya di Singapura saja yang ditutup.
Saat ini, CEO CT Corporation Chairul Tanjung memiliki saham PT Carrefour Indonesia sebesar 40 persen. Saham tersebut dibeli pada 16 April 2010 dengan nilai mencapai USD 300 juta atau lebih dari Rp 3 triliun.Chairul membeli Carrefour dari dana pinjaman sejumlah sindikasi bank.
Setelah dibeli CT, komposisi pemegang saham Carrefour Indonesia terdiri dari Trans Ritel sebesar 40 persen, Carrefour SA 39 persen, Carrefour Netherland BV 9,5 persen, dan Onesia BV 11,5 persen. Chairul Tanjung pernah menyampaikan rencananya membeli seluruh saham Carrefour Indonesia.
Carrefour hadir di Indonesia sejak 1996. Gerai pertama dibuka di Cempaka Putih pada Oktober 1998. Pada saat yang sama, Continent, sebagai perusahaan ritel Prancis membuka gerai pertamanya di Pasar Festival. Pada tahun 1999, Carrefour dan Promodes (sebagai pemegang saham utama dari Continent) menggabungkan semua kegiatan usaha ritel di seluruh dunia dengan nama Carrefour. Hal tersebut menjadikan Carrefour sebagai ritel terbesar kedua di dunia.
Carrefour Indonesia memperkenalkan konsep hipermarket. Hingga saat ini, Carrefour sudah mengoperasikan 83 gerai yang tersebar di 28 kota/kabupaten di Indonesia.
(mdk/oer)