Di Rapat Panja Komisi VI, Erick Thohir Sampaikan Langkah Penyelamatan Jiwasraya
Panitia Kerja (Panja) pengawasan industri asuransi Jiwasraya Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memanggil Menteri BUMN Erick Thohir untuk membahas penyelesaian sengkarut Jiwasraya. Rapat dimulai pukul 14.20 WIB tersebut dilaksanakan secara tertutup.
Panitia Kerja (Panja) pengawasan industri asuransi Jiwasraya Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memanggil Menteri BUMN Erick Thohir untuk membahas penyelesaian sengkarut Jiwasraya. Rapat dimulai pukul 14.20 WIB tersebut dilaksanakan secara tertutup.
"Rapat Panja ini bisa dibuka karena forum fraksi sudah terpenuhi dengan semangat Panja Komisi VI dan Kementerian BUMN. Keinginan kita untuk segera selesaikan terkait pengembalian pemegang saham atau poli, pemegang saving plan," ujar Aria di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (29/1).
Aria menjelaskan, rapat ini merupakan agenda prioritas agar masalah Jiwasraya yang sudah menahun bertahun-tahun bisa segera diselesaikan.
"Ini merupakan rangkaian agenda panja Jiwasraya, yang merupakan instrumen komisi VI, untuk memaksimalkan bagaimana kinerja, kewenangan komisi VI berkaitan fungsi pengawasan dengan mitra kerja yaitu Kementerian BUMN," imbuhnya.
Langkah Penyelamatan Jiwasraya
Erick Thohir mengapresiasi rapat digelar tertutup untuk menghindari salah persepsi upaya penyelamatan gagal bayar Jiwasraya. Dia menjelaskan, Kementerian BUMN dan tim Jiwasraya akan berupaya mulai melakukan pembayaran awal polis nasabah di Maret akhir, namun tak menutup kemungkinan bisa dipercepat.
"Dalam hari ini, konteks pembicaraan yang sudah kami rapatkan dari internal mungkin Maret akhir sudah mulai ada pembayaran kalau nanti konsep yang kami paparkan tertutup bisa disetujui," jelasnya.
Dia melanjutkan, permasalahan Jiwasraya bukan permasalahan yang ringan tetapi cukup panjang. Hal ini juga karena manajemen Jiwasraya sebelumnya itu tidak melakukan pengelolaan investasi dengan menggunakan prinsip kehatian-hatian.
"Manajemen Jiwasraya menawarkan produk asuransi yang bunganya tinggi jauh dari yang ada di pasar, ini yang menjadi hal penting ke depan kami perlu adanya safety dari investasi seperti ini, tidak hanya mengejar bunga," kata Erick.
Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6.com
(mdk/azz)