Di G20, bos BI banggakan jangkau rakyat kecil lewat keuangan digital
Bank Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia telah dapat menyalurkan dana bantuan sosial kepada kelompok rentan (Government to People) secara non tunai menggunakan sistem perbankan melalui Layanan Keuangan Digital (LKD).
Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, ikut hadir dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara G20 pada 17-18 Maret 2017 di Baden-Baden, Jerman. Agus hadir dalam pertemuan itu bersama delegasi Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Dalam pertemuan ini, Agus menyampaikan bahwa Indonesia terus mendukung kerjasama Global Partnership for Financial Inclusion (GPFI) dalam meningkatkan akses dan literasi keuangan untuk kelompok rentan dan UMKM. Sebagai bentuk kemajuan kongkret Indonesia di area ini, Bank Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia telah dapat menyalurkan dana bantuan sosial kepada kelompok rentan (Government to People) secara non tunai menggunakan sistem perbankan melalui Layanan Keuangan Digital (LKD).
"Hal ini secara signifikan mampu menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked) dan mendorong berkembangnya ekosistem non tunai bagi UMKM di Indonesia," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Senin (20/3).
Selanjutnya, Agus menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk senantiasa menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung pembahasan di kerja sama internasional untuk memperkuat resiliensi ekonomi dan keuangan guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, berimbang, berkesinambungan, dan inklusif.
Terkait dengan resiliensi keuangan, G20 berkomitmen menuntaskan implementasi agenda reformasi sektor keuangan secara tepat waktu dan konsisten. Dalam kaitan ini, Indonesia mendukung upaya mengatasi kerentanan struktural dari kegiatan pengelolaan aset, shadow banking, over the counter (OTC) derivatives, Central Counterparties (CCP), permodalan Basel 3, dan risiko misconduct.
"Indonesia juga mendukung kerangka struktural yang akan mengevaluasi dampak dari implementasi reformasi keuangan global untuk perbaikan ke depan," jelasnya.
Dalam pengembangan sektor keuangan, inovasi digital dinilai memberikan manfaat dan kesempatan bagi perkembangan jasa keuangan sekaligus potensi risiko yang perlu dikelola. Untuk itu, Indonesia bersama G20 terus mendukung dan memantau pengembangan keuangan digital serta menyambut baik rencana identifikasi isu-isu pengaturan dan pengawasan keuangan digital dari perspektif stabilitas keuangan.
"Dalam kaitan ini, Bank Indonesia menyampaikan kemajuan Indonesia melalui pembentukan Fintech Office," jelasnya.
Indonesia bersama negara-negara G20 meneguhkan kembali komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dunia dan memperkuat resiliensi ekonomi di lingkup nasional dan global. "Upaya mewujudkan pertumbuhan yang kuat, berimbang, berkesinambungan, dan inklusif itu ditempuh dengan kebijakan moneter, fiskal, dan reformasi struktural," tuturnya.
Baca juga:
Singapura masih jadi raja pemberi utang ke RI, totalnya Rp 677 T
Awal 2017, utang luar negeri Indonesia meroket jadi Rp 4.274 triliun
BI: Rupiah menguat ke Rp 13.338 per USD sepanjang Februari
BI sebut Rupiah dan IHSG tetap perkasa meski suku bunga The Fed naik
BI: Surplus neraca perdagangan karena ekspor kelapa sawit naik