Demi bertahan hidup, Pedagang Glodok pecat para pegawainya
Sepinya pengunjung di Pasar Glodok, Jakarta, membuat pedagang harus memutar otak untuk mencari jalan keluar agar dapat menjalankan usahanya tanpa rugi. Sebagian pedagang memilih untuk mengurangi pegawainya dan menjalankan usaha sendiri.
Sepinya pengunjung di Pasar Glodok, Jakarta, membuat pedagang harus memutar otak untuk mencari jalan keluar agar dapat menjalankan usahanya tanpa rugi. Sebagian pedagang memilih untuk mengurangi pegawainya dan menjalankan usaha sendiri.
Pedagang elektronik, Lili (42) mengaku pengurangan pegawai untuk meminimalisir pengeluarannya. Awalnya, dia memiliki satu orang pegawai, namun karena sepi akhirnya dia memberhentikan pegawai tersebut,
"Dari pada mikirin gaji pegawai, apalagi kondisinya seperti ini transaksi tidak banyak. Jadi lebih baik jaga sendiri," katanya kepada merdeka.com, Selasa (18/7).
Pedagang lainnya, Rini (39), juga mengalami hal yang sama. Dia mengaku pendapatannya turun hampir 60 persen, sehingga tidak dapat membayar pegawai.
"Dulu pegawai sampai lima orang, soalnya kalau lagi ramai suka ribet. Pendapatan per hari biasanya paling banyak Rp 500.000, kalau sekarang untung-untungan tidak menentu. Jadi pegawai sekarang hanya dua orang," jelas Rini.
Rini menegaskan sepinya pembeli dan turunnya omzet disebabkan maraknya perdagangan online yang sedang terjadi.
"Karena sekarang sudah canggih, semuanya sudah bisa di akses dari internet. Pembelian dan pembayaran sudah otomatis. Jadi tidak perlu jalan-jalan kesini," pungkasnya.
Baca juga:
Cerita pedagang Glodok beli kios Rp 70 juta, dijual hanya Rp 15 juta
5 Dampak mengejutkan hadirnya belanja online, termasuk PHK massal
Ini kata Mendag Enggar soal matinya Pasar Glodok
Belanja online picu PHK ribuan pekerja ritel
Beginilah nasib kios Glodok di tengah maraknya situs belanja online
Sepi pengunjung, kios-kios Pasar Glodok dijadikan gudang & disewakan