Defisit transaksi berjalan tahun lalu terburuk sejak 1961
Selain BBM, aktivitas jasa dan perhubungan juga berkontribusi terhadap defisitnya transaksi berjalan.
Impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus meningkat setiap tahun berimbas pada defisit di neraca perdagangan utamanya di transaksi berjalan (current account).
Kementerian Keuangan mencatat, defisit transaksi berjalan akibat impor migas ini nyaris mencapai ambang batasnya yaitu sebesar 3 persen. "Transaksi berjalan kita defisit 2,7 dari PDB, cukup tinggi. Kuartal IV 2012 hampir 3 persen," kata Wakil Menteri Keuangan II Mahendra Siregar di Hotel JW Marriot, Rabu (6/2).
Besarnya defisit transaksi berjalan ini, kata Mahendra, merupakan yang tertinggi sejak tahun 1961. "Sejak 1961, ini pertama kalinya mengalami defisit. Kalau tren itu terus berjalan, maka kita akan mengalami defisit yang tidak pernah terjadi dalam sejarah Indonesia," ungkap Mahendra.
Selain akibat impor migas, Mahendra juga menyebutkan bahwa aktivitas jasa dan perhubungan juga berkontribusi terhadap defisitnya transaksi berjalan. Aktivitas perhubungan yang dimaksud oleh Mahendra adalah penggunaan jasa angkutan perhubungan internasional untuk berbagai kepentingan.
"Transaksi jasanya meningkat ya, baik untuk asuransi maupun juga untuk perhubungan, apa namanya jasa angkutan. Jadi pembayaran keluar akibat kita menggunakan jasa-jasa yang terkait dengan internasional," papar Mahendra.
Langkah antisipasi yang disiapkan oleh Kementerian Keuangan, berkaitan dengan pengendalian volume penggunaan BBM, utamanya BBM bersubsidi.
"Arahan sampai saat ini adalah mengendalikan di volume. Tapi Kementerian Keuangan melihatnya justru adalah besaran nilai subsidinya. Tetapi yang penting efektifitasnya harus dijaga," kata Mahendra.
Terkait dengan opsi menaikkan harga BBM bersubsidi, Mahendra mengaku pihaknya tidak ingin berspekulasi mengenai opsi tersebut. Namun, apabila fiskal terus terganggu, maka akan mengancam pertumbuhan ekonomi yang kini sudah bertahan selama sembilan kuartal berturut-turut di angka 6 persen.
"Pada akhirnya semua melihat jangkar dari pertumbuhan itu, stabilitas keberlanjutan pertumbuhan kita itu pada fiskal. Kalau benteng itu tidak jaga baik, berat," jelasnya.
(mdk/noe)