Dari 31.000 karyawan Freeport, hanya 30 persen warga Papua
Freeport didesak menambah jumlah pekerja dari Papua, setidaknya hingga 45 persen dalam waktu lima tahun ke depan.
Puluhan tahun PT Freeport Indonesia mengeruk kekayaan alam dalam jumlah besar. Pundi-pundi keuntungan pun dikumpulkan. Freeport Indonesia menjadi mesin pencetak uang bagi perusahaan induknya Freeport McMoran.
Investasi yang dilakukan perusahaan di daerah idealnya diikuti dengan pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) masyarakat sekitar. Namun ini tidak dilakukan sepenuhnya oleh Freeport. Perusahaan tambang emas terbesar di dunia ini hanya mempekerjakan sebagian kecil masyarakat Papua.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Rozik B. Soetjipto mengatakan, hanya sekitar 30 persen sampai 36 persen pekerja Freeport yang merupakan warga Papua. "Dari 31.000 pekerja, sekitar 30-36 persen warga Papua," kata Rozik di Jakarta Convention Center, Rabu (22/1).
Diakuinya, Perseroan telah didesak untuk menambah jumlah pekerja yang berasal dari Papua. Setidaknya hingga 45 persen dalam waktu lima tahun ke depan. Desakan tersebut berasal dari Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres). "Seharusnya kata dia 100 persen, bukan 30 persen," imbuh Rozik.
Dia berdalih, Freeport memiliki standar kualitas pekerja yang harus dipenuhi oleh siapapun yang berminat untuk bekerja di Freeport. Rozik beralibi telah memprioritaskan warga setempat untuk menempati posisi pekerja di perusahaan penambang emas dan tembaga tersebut.
(mdk/noe)