Cuma strategi bisnis, tak ada istilah penerbangan murah
Maskapai menggunakan strategi ini untuk menjaring konsumen yang memilih membeli tiket jauh hari sebelum keberangkatan.
Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno ikut angkat bicara soal kebijakan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan menaikkan batas bawah tiket penerbangan dari semula 30 persen menjadi 40 persen dari batas atas.
Djoko setuju dengan pernyataan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang menyebut, tidak ada istilah penerbangan murah. Menurutnya, tiket murah penerbangan lahir sebagai bagian dari strategi bisnis maskapai.
"Penerbangan murah itu tidak ada, itu cuma strategi dagang. Saya setiap minggu naik pesawat saya beli juga mahal sampai Rp 900.000," ucap Djoko ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Rabu (14/1).
Kebanyakan maskapai menggunakan strategi ini untuk menjaring konsumen yang memilih membeli tiket jauh hari sebelum keberangkatan. Dalam pandangannya, cara ini sah sebagai bentuk strategi bisnis menghadapi persaingan.
"Kalau beli jauh jauh hari tentu murah. Sekarang masih ada Rp 400.000-an. Tapi jumlahnya sedikit. Mungkin 4 atau 4 seat," katanya.
Terlepas dari kontroversi soal penghapusan tiket penerbangan murah, Djoko berharap kenaikan tarif batas bawah bisa meningkatkan keselamatan meski ini masih dipertanyakan korelasinya.
"Yang penting kalau ada apa apa pemerintah tidak disalahkan juga dan pengawasan pengetatan bisa dilakukan. Tapi juga kan dalam usaha itu dihitung pendapatan total bukan satu per satu. Pokoknya diperketat saja meski antara keselamatan dan tarif masih perdebatan," tutupnya.
(mdk/noe)