CIMB Niaga Catat Milenial Berpotensi Gagal Bayar KPR Meningkat Sejak 2020
Para debitur KPR segmen milenial banyak yang menjadi korban yang dirumahkan atau PHK, terutama mereka yang bekerja di sektor-sektor yang terdampak paling dalam seperti pariwisata.
Mortgage & Secured Loan Business Head CIMB Niaga, Heintje Mogi mengakui kecenderungan gagal bayar pada CIMB Niaga meningkat sejak tahun 2020. Hal ini tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia.
Para debitur KPR segmen milenial banyak yang menjadi korban yang dirumahkan atau PHK, terutama mereka yang bekerja di sektor-sektor yang terdampak paling dalam seperti pariwisata.
"Harus diakui sejak tahun 2020 kecenderungan gagal bayar meningkat," kata Heintje dalam Diskusi Bersama CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (18/3).
Perusahaan pun memberikan restrukturisasi kredit pada debitur yang terdampak pandemi Covid-19 sehingga NPL (Non Performing Loan) atau kredit macet masih relatif terjaga. Permintaan KPR dari segmen milenial pun mengalami penurunan hingga sekitar 70 persen.
"Kalau tahun 2019 misalnya ada 1.000 milenial yang mengajukan KPR, tahun 2020 ini tinggal 30 persen yang mengajukan kreditnya," kata dia.
CIMB Niaga menyiasati pertumbuhan KPR milenial dengan menawarkan produk yang beragam. Mulai dari kredit rumah Rp500 juta sampai Rp600 juta dan memastikan penghasilan para debitur atau calon debitur tetap bergerak di tengah ketidakpastian ini.
"Apapun produk KPR-nya kalau bunga murah tapi tidak ada penghasilan akan sama saja, yang penting kita pastikan dulu penghasilan mereka bergerak," kata dia.
Pengetatan Pada Debitur
Pihaknya pun menjadi lebih cermat dan melakukan beberapa pengetatan kebijakan kepada debitur dalam menyalurkan kredit agar tidak berubah menjadi kredit macet di kemudian hari. Selain itu, perusahaan juga tahun ini mencadangkan untuk mengantisipasi kredit macet yang berubah menjadi NPL.
"Tahun 2021 ini kami mencadangkan jauh lebih baik, tahun lalu Rp7,4 triliun dan kita harus tumbuh lebih baik. Kalau NPL kita jelek, kredit kita persulit, karena managemen minta kita tahun ini harus tumbuh lebih baik dari tahun 2020," katanya.
Beberapa strategi yang ditempuh lainnya yakni menertibkan peta target debitur dari sektor-sektor yang terdampak. Melakukan evaluasi keuangan dan melakukan berbagai mitigasi dari kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Selain itu juga menilai aspek keuangan nasabah, kemampuan bayar debitur dan melihat tren di pasar.
"Tentunya kita lihat tren yang ada di pasar, kita lihat daerah yang terdampak dan kita gak bisa seagresif dulu untuk di wilayah terdampak untuk menekan NPL," kata dia mengakhiri.
(mdk/idr)