LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Chevron dan Exxon kuasai kegiatan migas nasional

Indonesia sudah tak lagi berdaulat atas energi.

2013-06-20 17:25:00
Migas
Advertisement

Indonesia sempat merasakan masa jaya ketika masih masuk dalam daftar negara pengeskpor minyak bumi. Secara perlahan predikat tersebut mulai memudar. Indonesia pun keluar dari keanggotaan OPEC atau negara pengekspor migas pada 2008. Bahkan, Indonesia mulai rajin mengimpor minyak.

Pengamat ekonomi dari Indonesia for Global Justice Salamuddin Daeng menilai, Indonesia tak lagi memiliki kedaulatan atas energi yang dimilikinya. Indikatornya, migas dalam negeri dikuasai perusahaan asing. Tercatat 160 kontraktor migas menguasai kontrak migas nasional. Ironisnya, 85 persennya produksi minyak mentah dikuasai perusahaan asing.

"Chevron dan Exxon menguasai hampir separuh produksi migas nasional," ujar Salamuddin dalam sebuah diskusi GMKN,di Jakarta, Kamis (20/6).

Advertisement

Sebagian besar usaha kegiatan hulu migas dikuasai Chevron. Perusahaan asal AS ini menguasai 47 persen produksi migas nasional. Sebesar 37 persennya dikuasai swasta dan asing lainnya. Di mana peran perusahaan nasional? Pertamina hanya menguasai 16 persen saja.

Dengan kondisi ini, dia melihat potensi kekayaan minyak nasional tidak lagi dapat dinikmati rakyat. Keuntungan dari sumber daya alam bidang migas dinikmati segelintir perusahaan asing. Anehnnya Indonesia juga harus membeli minyak miliknya sendiri dengan harga yang lebih mahal di pasar internasional.

"Migas diobral murah kepada perusahaan asing menyebabkan produksi nasional rendah, sementara harga semakin tinggi. Akibatnya negara dirugikan pada satu sisi, namun perusahaan minyak diuntungkan pada sisi yang lain," tegasnya.

Advertisement

Menurut International Energy Agency, beberapa negara juga masih memberikan subsidi energi. Sebut saja seperti Iran yang mengalokasikan subsidi BBM hingga USD 647 miliar, Rusia USD 359 miliar. Sedangkan Indonesia hanya USD 77 miliar.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.