LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Chatib Basri: Saya Tidak Terkejut Pertumbuhan Ekonomi 2,97 persen

Kementerian Keuangan menyatakan dampak Covid-19 mewarnai perekonomian Indonesia di triwulan I-2020 yang hanya mampu tumbuh sebesar 2,97 persen (year on year). Meski berdampak lebih cepat dari perkiraan, tingkat pertumbuhan Indonesia ini masih relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lain.

2020-06-25 16:43:01
Chatib Basri
Advertisement

Kementerian Keuangan menyatakan dampak Covid-19 mewarnai perekonomian Indonesia di triwulan I-2020 yang hanya mampu tumbuh sebesar 2,97 persen (year on year). Meski berdampak lebih cepat dari perkiraan, tingkat pertumbuhan Indonesia ini masih relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lain.

Ekonom sekaligus Mantan Menteri Keuangan era SBY, M. Chatib Basri mengaku, tidak terlalu terkejut mengenai pernyataan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 2,97 persen. Meski demikian, dia memperhitungkan seharusnya pertumbuhan ekonomi masih bisa di angka 5 persen.

Di mana saat pemerintah mengumumkan adanya covid-19 di awal Maret, sehingga di bulan Januari dan Februari tidak terdampak.

Advertisement

"Katakanlah Februari covid-19 itu mulai outbreaknya di Wuhan akhir Januari, mungkin dampak ekternal ekspor itu Februari dari 5 turun ke 4 persen lah, kemudian baru bulan Maret dampak PSBB, yang menarik tiga bulan Januari, Februari dan Maret itu angkanya ke 2,97 persen, artinya ada sesuatu yang menarik di bulan Maret rata-rata ke bawah," kata Chatib dalam konferensi pers rilis SMRC, Kamis (25/6).

Dia menjelaskan, penurunan itu tidak mungkin terjadi di Januari karena belum ada covid-19 di Indonesia, kemudian pada Februari masih yang terkena ekternal saja hanya ekspor yang kena turun bisa dikatakan turun dari 5 persen ke 4 persen. Tapi kemudian drop 3 persen di bulan Maret, berarti situasi di Maret itu parah.

"Cerminan dari situasi Maret ini adalah Cerminan yang terjadi di April, Mei, dan Juni, kenapa? Karena dampak dari sosial distancing mulai terjadi sejak Maret. Jadi saya bisa membayangkan bahwa kalau saya lakukan Ekstrapolasi (memperkirakan nilai) dari angka itu, mungkin ekonomi kita akan kontraksi di kuartal kedua 2020, pertumbuhannya mungkin akan negatif," katanya.

Advertisement

Sekarang masuk ke consumption growth atau pertumbuhan konsumsi, sektor mana yang masih lumayan, dia mengatakan sektor yang berhubungan dengan kesehatan dan edukasi masih dianggap baik.

"Atau yang tinggi growth nya adalah online farmasi, beli obat secara online. Kenapa sektor online bisa relatif baik? Karena esensi dasar dari ekonomi adalah pasar, aktivitas ekonomi itu bisa jalan kalau pasarnya ada," ujarnya.

Menurutnya, pasar itu adalah tempat pertemuan orang untuk melakukan barang dan jasa secara visual atau fisik. Tapi secara sosial distancing fisiknya tidak boleh, jadi esensi dari aktivitas konomi adalah pasar. "Pasar adalah tempat bertemu, tapi justru tidak bertemu, makannya pasar yang aktivitasnya fisik maka collapse, kecuali kalau pindah ke online," tandasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
IMF Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi Minus 4,9 Persen
Per Hari Ini, Total Dukungan PIP untuk Kredit Ultra Mikro Capai Rp1 T
Survei: Kontribusi Grab ke Ekonomi Indonesia Mencapai Rp 77 Triliun
Pulihkan Ekonomi, Pemerintah Perlu Cari Cara Keluar dari Perangkap Kelas Menengah
Indonesia Harus Waspada, Pemulihan Ekonomi Thailand dan Vietnam Bergerak Cepat
Strategi Kemenkeu Antisipasi Lonjakan Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.