Cerita Menko Darmin tentang penyebab makin seringnya banjir besar di Jakarta
Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengungkapkan revisi tata kawasan mutlak diperlukan, mengingat cukup banyak permasalahan klasik yang perlu diselesaikan. Salah satunya, masalah banjir. Selain itu, persoalan yang menjadi perhatian mantan gubernur Bank Indonesia ini adalah pengolahan limbah.
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional mengadakan konsultasi Publik Rencana Tata Ruang (ATR) kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur (Jabodetabekpunjur).
Turut hadir dalam kegiatan ini Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan Djalil dan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro.
Dalam sambutannya, Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengungkapkan revisi tata kawasan mutlak diperlukan, mengingat cukup banyak permasalahan klasik yang perlu diselesaikan. Salah satunya, masalah banjir.
"Banjir dalam skala besar sudah lama. Tapi dulu itu tidak tiap tahun atau beberapa tahun. Dalam catatan yang ada (banjir besar) pernah terjadi 1699 itu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) baru berdiri itu," ungkapnya di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Senin (16/4).
"Kemudian tahun 1714 (baru terjadi lagi). Lama kan. (Selang) 30 sekian tahun. Kemudian 1854. Kemudian 1918, 1996, kemudian makin sering. 2002, 2007, 2008, 2013," lanjut dia.
Menurut dia, banjir menjadi lebih sering terjadi, karena peningkatan debit sungai yang diakibatkan perubahan kondisi hulu dan sedimentasi yang mengurangi kapasitas penampungan aliran sungai. "Selain itu, timbulnya slum area mencapai 891.963 RT pada 2013. Kalau 2018 pasti ceritanya lain lagi," jelas Menko Darmin.
Selain itu, persoalan yang menjadi perhatian mantan gubernur Bank Indonesia ini adalah pengolahan limbah. Sistem pengolahan limbah, kata Menko Darmin, juga harus diperhatikan dan dibenahi.
"Data metropolitan priority area, Jabodetabek rasio cakupan pelayanan pembuangan limbah di Jakarta pada 2010 hanya 2 persen. Sebagian besar air limbah tidak diolah," ujarnya.
"Citarum bagian dari persoalan besarnya. Seiring jalannya waktu dibarengi pertumbuhan penduduk kontaminasi air pada sungai dapat memburuk kalau tidak diimbangi tindakan yang tepat," tandasnya.
Baca juga:
Banjir rendam ratusan rumah dan putuskan jembatan di Indragiri Hulu
Antisipasi banjir, Waduk Grogol dikeruk alat berat
Tumpukan sampah kembali penuhi pintu air Manggarai
Ada normalisasi sungai, warga bantaran Solo dipindah ke rusunawa di Putri Cempa
Perumahan dosen IKIP Bekasi terendam banjir setinggi setengah meter
Selesaikan banjir, Anies janji bantu penataan kawasan Puncak
Anggota DPRD DKI minta pembangunan Waduk Rorotan Cakung dituntaskan