Catat Cara Atur Keuangan ala Li Ka-Shing, Salah Satu Orang Terkaya Asia
Sebelum Pengusaha Jack Ma berjaya ada sosok bernama Li Ka Shing sudah lebih dulu dikenal sebagai orang paling kaya di Hong Kong. Bukan hanya di Hong Kong, Li Ka Shing pernah jadi orang terkaya di Asia.
Sebelum Pengusaha Jack Ma berjaya ada sosok bernama Li Ka Shing sudah lebih dulu dikenal sebagai orang paling kaya di Hong Kong. Bukan hanya di Hong Kong, Li Ka Shing pernah jadi orang terkaya di Asia.
Semasa muda sebelum menjadi konglomerat, Li pernah bekerja menjadi tukang sapu di sebuah pabrik di Hong Kong. Pekerjaan itu dijalani sambil mengurus ayahnya yang sakit.
Sukses menjadi pengusaha tak membuat gaya hidup Li berubah. Bahkan pria kelahiran Guandong 1928 silam ini dikenal dengan gaya hidup sederhana.
©celebritynetworth.com
Dia juga tak malu memamerkan jam tangannya seharga USD 500 karena harganya yang murah meriah. Sehingga tidak perlu repot hati-hati saat sedang beraktivitas. Padahal, kekayaannya mencapai ratusan miliar Rupiah.
Li Ka Shing pun dikenal memiliki sistem pengaturan keuangan yang dikenal budgeting ala Li Ka-Shing. Berapa pun pendapatan yang diterima, Li menyarankan setiap pendapatan dibagi menjadi lima pos anggaran secara proporsional.
"Tidak peduli berapa banyak yang Anda peroleh, selalu ingat untuk membaginya menjadi lima bagian secara proporsional," kata Li Ka Shing.
Lantas apa saja lima pos anggaran yang dimaksud Li? Simak ulasannya yang telah dirangkum merdeka.com.
1. Pos Biaya Hidup
Pos biaya hidup menjadi yang paling penting dalam perencanaan keuangan ala Li Ka Shing. Dia menyarankan agar menganggarkan 30 persen pendapatan untuk kebutuhan hidup.
Utamakan pengeluaran ini untuk makan ketimbang jajan kopi atau cemilan. Untuk menghemat, dia menyarankan agar memasak sendiri makanan yang dikonsumsi. Sebisa mungkin atur biaya kebutuhan bulanan agar tidak lebih dari budget 30 persen penghasilan.
2. Pos Bersosialisasi
Li Ka Shing memang dikenal dengan gaya hidup hemat dan sederhana. Namun hal ini tidak membuat berdiam diri di rumah agar tidak menghabiskan uang.
Sebaliknya, Li justru menyarankan anggaran 20 persen dari pendapatan untuk kehidupan bersosialisasi. Dengan uang tersebut, diharapkan bisa bergaul dan memperluas jaringan.
Sehingga bisa mencari atau mendatangkan peluang baru yang bisa menghasilkan pendapatan. Pos bersosialiasi ini juga bisa digunakan untuk mentraktir seseorang yang ingin diajak bicara untuk mendengarkan kisah suksesnya.
3. Pos Pengembangan Diri
Li Ka Shing menyarankan untuk menyisihkan 15 persen pendapatan untuk membiayai pengembangan diri. Meski sudah lulus sekolah, namun bukan berarti berhenti untuk belajar.
Belajar yang dimaksud tidak harus menempuh pendidikan formal, tetapi bisa dengan membaca buku, mengikuti kursus bahasa asing hingga kursus keahlian tertentu. Alokasi dana ini juga bisa digunakan untuk menghadiri acara talkshow atau workshop yang bisa menambah keahlian hingga wawasan.
4. Pos Liburan
Meskipun Li Ka Shing menyarankan hidup hemat namun tidak berarti Anda tidak bisa menikmati hidup. Dalam mengatur keuangan, Li menyisihkan 10 persen pendapatan untuk liburan.
Liburan menjadi bentuk berterima kasih pada diri sendiri yang sudah bekerja dan mengembangkan diri. Namun, liburan tidak harus mahal dan sering.
Pos anggaran liburan bisa dikumpulkan selama jangka waktu tertentu untuk kemudian digunakan pada saat yang tepat. Minimal 1 kali dalam setahun agar bisa bersantai dan kembali bekerja dengan semangat. Ini juga sebagai cara untuk mendapatkan pengalaman hidup.
5. Pos Investasi
Li Ka Shing menyarankan menyisihkan 25 persen pendapatan per bulan untuk pos investasi. Tidak sedikit orang yang beranggapan investasi hanya dilakukan oleh orang-orang depan pendapatan besar. Padahal investasi bisa dilakukan oleh siapa saja, sekalipun pendapatannya pas-pasan.
Li berpendapat sebaiknya investasi dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak pertama kali memiliki gaji. Pos investasi ini juga bisa digunakan untuk memiliki asuransi, khususnya kesehatan untuk memproteksi diri.
(mdk/bim)