Cadev turun, menkeu sebut lebih baik kantong tebal daripada kering
Cadangan devisa sebagai amunisi menghadapi kondisi perekonomian yang semakin bergejolak.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menegaskan, cadangan devisa Indonesia belum mencapai titik kritis meski sudah digunakan untuk intervensi di pasar uang demi menjaga nilai tukar rupiah agar tidak semakin ambruk.
Pemerintah dan Bank Indonesia mengaku terus berupaya meningkatkan cadangan devisa nasional. Ini penting sebagai amunisi menghadapi kondisi perekonomian yang semakin bergejolak.
"Istilahnya, lebih banyak (cadev) lebih baik. Kalau punya dompet tebal kan lebih enak daripada dompet kering. Kantong kering. Kita intinya bagaimana mempertebal dompet kita itu," kata Bambang di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (22/9).
Dalam situs resmi Bank Indonesia (BI) tercatat cadangan devisa bulan Agustus sebesar USD 105,346 miliar. Saat rapat bersama Komisi XI DPR semalam, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyebut cadangan devisa saat ini sebesar USD 103 miliar.
Angka tersebut, lanjut Bambang, masih ada dalam batas normal cadev suatu negara. "Iya itu masih setara enam bulan impor lah. Jadi itu standar normal. Ya tergantung. Tapi kalau enam bulan impor masih sangat aman," ucap Bambang.
Kemenkeu bersama Bank Indonesia dan Dewan Komisioner OJK mendapat instruksi dari Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk mempersiapkan berbagai instrumen untuk menambah cadangan devisa Indonesia.
"Ya itu, mempersiapkan instrumen untuk mendorong devisa lebih banyak dan lebih lama tinggal di Indonesia," ucap Bambang.
(mdk/noe)