BUMN: Utang Bertambah Untuk Investasi, Pasti Mampu Dibayar
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menekankan kemampuan untuk membayar utang BUMN masih terjaga di rentang yang aman. Namun tak dipungkiri, utang BUMN dari 2015-2018 tercatat terus mengalami kenaikan. Salah satu yang membuat utang bertambah adalah untuk kegiatan investasi.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menekankan kemampuan untuk membayar utang BUMN masih terjaga di rentang yang aman. Namun tak dipungkiri, utang BUMN dari 2015-2018 tercatat terus mengalami kenaikan.
Sekretaris Menteri BUMN, Imam Apriyanto Putro, menjelaskan salah satu yang membuat utang bertambah adalah untuk kegiatan investasi. Dalam melakukan proyek, perusahaan pasti membutuhkan dana dari ekuitas dan utang.
"Kemampuan bayar utang, aman. Kan kemampuan bayarnya dari pendapatan. Namanya proyek, pasti ada porsi ekuitas dan utang," jelas dia saat ditemui usai Rapat Koordinasi BUMN 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (28/2).
Dia menjabarkan, pada 2015, utang BUMN sebesar Rp 1.299 triliun, kemudian Rp 1.413 triliun untuk 2016, dan Rp 1.623 triliun 2017 serta Rp 2.394 triliun pada 2018. Dia memastikan BUMN mampu membayar utang. "Orang perusahaan tumbuh, berkembang besar," ujarnya.
Seperti diketahui, sejauh ini ada 10 BUMN pemilik utang terbesar. Sepuluh BUMN tersebut adalah BRI, Mandiri, BNI, PLN, Pertamina, BTN, Taspen, Waskita Karya, Telekomunikasi dan Pupuk Indonesia.
Reporter: Bawono Yadika Tulus
Sumber: Liputan6
Baca juga:
Tips Jitu Dari BCA Agar Tidak Terjerat Utang Kartu Kredit
Bukopin Terbitkan Surat Utang Rp 2 Triliun Usai Pilpres 2019
Menko Luhut Soal Utang Pemerintah Bertambah: Indonesia ini Utangnya Produktif
Utang Pemerintah Nyaris Rp 4.500 Triliun Hingga Februari 2019
Per Januari, Kemenkeu Catat Pembiayaan Utang Indonesia Rp 122,5 Triliun
7 Janji Jokowi Saat 2014 yang Tepat dan Meleset dari Realisasi
Utang 40 Tahun ke Jepang untuk Bangun MRT, Wapres JK Yakin Indonesia Sanggup Bayar