BUMN: Banyak yang Lirik Jabatan Dirut Garuda Indonesia
Banyaknya pilihan pengganti Askhara membuat BUMN makin selektif. Dia berjanji akan menunjukkan kandidat terbaik untuk perusahaan maskapai milik negara.
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menyebut bahwa banyak yang tertarik mengisi jabatan kosong di PT Garuda Indonesia (Persero). Saat ini, posisi Direktur Utama masih kosong setelah I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra dicopot Menteri Erick Thohir karena terlibat penyelundupan onderdil motor Harley Davidson dari Eropa.
"Namanya Garuda kan menarik, jadi banyak yang masuk," kata Arya di Upnormal Coffe Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (19/1).
Banyaknya pilihan pengganti Askhara membuat BUMN makin selektif. Dia berjanji akan menunjukkan kandidat terbaik untuk perusahaan maskapai milik negara.
Meski begitu dia enggan membeberkan jumlah dan para nama para kandidat. Dia meminta semua pihak untuk sabar menunggu sampai tanggal 22 Januari mendatang.
Pasalnya keputusan tersebut akan diambil dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Dalam RUPS itu akan hadir para pemegang saham.
"Kami tidak mungkin melangkahi keputusan RUPS, tunggu tanggal 22 saja," kata Arya mengakhiri.
Erick Thohir Kantongi Nama Dirut Garuda Indonesia yang Baru
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku telah mengantongi nama Direktur Utama dan direksi baru PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Sedangkan untuk nama-nama komisaris akan ditentukan pada pekan depan.
"Garuda InsyAllah hari ini direksinya, jajaran komisarisnya mungkin masih minggu depan," kata Erick dalam acara Penandatanganan Perjanjian Pemegang Saham Pendirian Perusahaan Patungan, antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero), di Synergy Lounge Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, (10/1).
Dirut Garuda Indonesia sebelumnya, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara telah diberhentikan dari jabatannya pada 5 Desember 2019. Pemberhentian ini karena Ari terbukti menjadi pelaku penyelundupan barang mewah yaitu komponen motor Harley Davidson.
Menurut Erick, untuk memilih nama-nama direksi yang akan mengisi posisi di Garuda Indonesia memerlukan proses yang tidak sebentar karena pihaknya menginginkan orang yang tepat dalam memutuskan Dirut garuda yang baru.
"Padahalkan kadang-kadang kita sebagai pemegang saham ingin memastikan, bahwa figur-figur yang dipilih ini figur yang tepat," jelasnya.
Dia juga tidak bisa mengungkapkan nama direksi yang telah dipilihnya. Alasannya, Garuda Indonesia merupakan perusahaan terbuka (Tbk), sehingga untuk mengumumkannya harus sesuai dengan aturan.
"Garuda itu perusahaan Tbk jadi tentu prosesnya harus melalui Tbk, nanti saya ngomong dibilang melanggar," ungkapnya.
Erick Thohir Tak Mau Salah Lagi
Erick pun mengatakan bahwa pihak BUMN juga memiliki proses sendiri dalam menangani pemutusan Dirut beserta jajarannya.
"Takutnya Tbk nanti salah lagi, saya tidak mau cari masalah dengan institusi-institusi yang ada, nanti disangka arogan, padahal kita itu profesional dan transparan," katanya.
Dia pun percaya dengan mekanisme penilaian publik yang sangat objektif, dibandingkan dengan penilaian birokrasi.
"Saya percaya yang namanya mekanisme penilaian publik itu kadang-kadang lebih mantap, dibandingkan birokrasi yang kegendutan," pungkasnya.
(mdk/idr)