Bukan Cuma Emas, Program Makan Bergizi Gratis Turut Genjot Inflasi Jawa Barat 0,45% di Oktober 2025
BPS Jawa Barat mencatat Inflasi Jawa Barat pada Oktober 2025 naik 0,45% secara bulanan, dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan dan program Makan Bergizi Gratis.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat melaporkan adanya kenaikan inflasi di provinsi tersebut. Pada Oktober 2025, inflasi bulanan (month to month/mtm) tercatat sebesar 0,45 persen. Kenaikan ini dipicu oleh beberapa faktor signifikan yang memengaruhi daya beli masyarakat di wilayah tersebut.
Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Darwis Sitorus, menjelaskan bahwa emas perhiasan menjadi salah satu pemicu utama. Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut turut menyumbang kenaikan inflasi. Program ini berdampak pada harga komoditas pangan tertentu.
Kenaikan harga telur dan daging ayam ras menjadi indikator langsung dari dampak program MBG. Data BPS menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi bulanan sebesar 0,7 persen. Hal ini menjadikannya penyumbang inflasi terbesar kedua di Jawa Barat.
Dampak Emas Perhiasan dan Program Makan Bergizi Gratis terhadap Inflasi
Darwis Sitorus dari BPS Jawa Barat secara spesifik menyebutkan peran emas perhiasan. Komoditas ini menunjukkan kenaikan harga yang signifikan pada Oktober 2025. Meskipun sempat ada kabar penurunan harga, faktanya emas perhiasan justru melonjak. Kenaikan ini memberikan andil inflasi tertinggi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diidentifikasi sebagai faktor pendorong inflasi. Implementasi program ini secara tidak langsung memicu kenaikan harga. Terutama pada komoditas pangan pokok seperti telur ayam ras dan daging ayam ras di pasaran.
Menurut Darwis, "Yang membuat inflasi Oktober naik itu pertama emas perhiasan yang naik signifikan di Oktober walau sempat dengar turun harga. Dan catatan peristiwa program MBG itu (ternyata) juga mengakibatkan kenaikan harga, (utamanya) di telur, kemudian daging ayam."
Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi bulanan 0,7 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen. Angka tersebut hanya sedikit di bawah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 3,83 persen. Kelompok perawatan pribadi ini memiliki andil inflasi 0,22 persen.
Secara rinci, emas perhiasan menyumbang andil inflasi tertinggi sebesar 0,22 persen. Telur ayam ras menyusul dengan 0,08 persen, cabai merah 0,06 persen, daging ayam ras 0,05 persen, dan jeruk 0,02 persen. Sementara itu, beberapa komoditas justru mengalami deflasi, seperti cabai rawit (-0,02 persen), jengkol, mentimun, dan tomat (masing-masing -0,01 persen).
Tren Inflasi Jawa Barat: Bulanan, Tahunan, dan Per Kota
BPS Jawa Barat mencatat bahwa inflasi emas perhiasan telah terjadi sejak awal tahun 2024. Pada Oktober 2025, kenaikan harga emas mencapai puncaknya dengan inflasi sebesar 11,8 persen. Ini menunjukkan tren kenaikan yang konsisten dan signifikan.
Darwis Sitorus menambahkan, "Emas perhiasan terus melonjak naik dan memberikan andil inflasi sejak Januari 2024. Bahkan Oktober 2025 ini menjadi inflasi emas perhiasan yang tertinggi yaitu sebesar 11,8 persen."
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi di Jawa Barat mencapai 2,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, secara tahun berjalan (year to date/ytd) sepanjang 2025, inflasi tercatat sebesar 2,03 persen. Angka-angka ini memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi Inflasi Jawa Barat.
Inflasi bulanan pada Oktober 2025 terjadi di seluruh kabupaten/kota pantauan di Jawa Barat. Kota Bekasi mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 0,57 persen. Diikuti oleh Kota Depok dengan 0,47 persen dan Kota Bandung sebesar 0,46 persen. Ketiga kota ini melampaui rata-rata inflasi provinsi.
Untuk inflasi tahun kalender (year to date) per Oktober 2025, Kota Sukabumi menjadi yang tertinggi dengan 2,66 persen. Kabupaten Subang tercatat paling rendah dengan 1,36 persen. Sedangkan secara tahun ke tahun (year on year), Kota Sukabumi juga memimpin dengan 3,87 persen, sementara Kabupaten Subang kembali menjadi yang terendah dengan 2,18 persen.
Sumber: AntaraNews