BPS khawatir kemiskinan meningkat di awal pemerintahan Jokowi
Harus ada upaya mengendalikan inflasi untuk menekan jumlah penduduk miskin semakin besar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin mengkhawatirkan angka kemiskinan yang akan kembali dirilis pada Maret 2015. Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang sempat menaikkan harga BBM jelang akhir tahun dikhawatirkan berdampak pada membesarnya angka kemiskinan.
"Maret 2015 akan bagaimana ya. Soalnya data September 2014 belum apa-apa, masih normal saja belum ada pengaruh kenaikan BBM subsidi," kata Suryamin di Kantornya, Jakarta, Jumat (2/1).
Suryamin mengingatkan pemerintahan Jokowi-JK berhati hati dalam mengambil kebijakan. Kenaikan BBM bakal memberatkan, belum lagi inflasi yang tinggi dan bisa menyeret masyarakat kembali ke garis kemiskinan.
"Hati-hati, BBM naik, inflasi tinggi. Maret memang harus ada upaya mengendalikan inflasi terutama. Mengendalikan barang yang mempengaruh inflasi itu sangat berpengaruh terhadap kemiskinan. Konsumsi dan komoditi harus diikuti peningkatan pendapatan, kalau tidak, angka kemiskinan akan naik," katanya.
Suryamin tidak bisa memastikan besaran pergerakan perubahan angka kemiskinan di Maret 2015. Meski khawatir, Suryamin tetap optimis angka kemiskinan bisa ditekan karena pemerintah pasti berupaya mengendalikan harga.
"Seperti bantuan sosial itu kan juga penting. Pokoknya ini bisa turun kalau harga terkendali. Upaya upaya pemerintah mungkin nanti kita petakan lagi di Maret 2015. Kita belum prediksi berapa naik dan turunnya," tutupnya.
Baca juga:
Maluku dan Papua juara kemiskinan di Indonesia
BPS beberkan fakta di balik turunnya jumlah orang miskin era SBY
Gara-gara rokok, orang Indonesia tak bisa keluar dari kemiskinan
Data terbaru BPS, jumlah orang miskin Indonesia 27,7 juta jiwa
Susana dan Susani dulunya adalah kembang desa, namun kini layu