Bos Pertamina: Kami akui sering berebut proyek gas dengan PGN
"Saat ini, PGN mendominasi pipa gas distribusi dan transmisi di Jawa dan Sumatera."
PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sering bersinggungan dalam menggarap proyek energi di Tanah Air. Makanya, penggabungan PGN dengan anak usaha Pertamina, Pertagas, dinilai menjadi opsi terbaik guna membenahi tata kelola energi nasional.
"Kami mengakui pembangunan pipa gas masih saling berebut. Saat ini, PGN mendominasi pipa gas distribusi dan transmisi di Jawa dan Sumatera," ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto di kantornya, Jakarta, Selasa (31/5).
Menurut Dwi, kebutuhan gas di Indonesia akan terus meningkat 4 persen setiap tahun. Sehingga, pada 2030, Indonesia diramalkan bakal mengimpor gas 2,4 miliar kaki kubik (BCF) guna menambal lubang pasokan dalam negeri.
"Permintaan kebutuhan gas selalu meningkat 4 persen per tahun. Untuk itu, sinergi Pertagas dan PGN sangat dibutuhkan dalam menopang kebutuhan gas Tanah Air," katanya.
Mantan Dirut Semen Indonesia ini menambahkan, sinergi ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan BUMN. Ujungnya, dividen pemerintah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi meningkat.
"Sinergi ini diharapkan bisa menutupi kebutuhan akan energi di Indonesia," katanya.