LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Bos Bukalapak: Regulator anggap e-commerce RI dikuasai asing, itu data dari mana?

Guna mendorong agar pelaku UMKM dalam negeri bisa merambah ke sektor ekspor, pelaku e-commerce Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan pihak luar untuk menggenjot produk lokal bermain di pasar global.

2018-10-09 13:03:29
E-commerce
Advertisement

Co-Founder dan Presiden Bukalapak, Fajrin Rasyid menyebut bahwa jumlah produk lokal di sektor bisnis e-commerce Indonesia saat ini masih lebih banyak dibanding produk impor dari luar negeri.

Guna mendorong agar pelaku UMKM dalam negeri bisa merambah ke sektor ekspor, pelaku e-commerce Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan pihak luar untuk menggenjot produk lokal bermain di pasar global.

"Seperti contoh, Indonesia Eximbank (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia/LPEI) bekerja sama dengan Jumia dari Afrika. Jumia sebagai pemasar di sananya, sehingga merchant-merchant di Bukalapak bisa kerja sama dengan e-commerce asing," terang dia di sela-sela penyelenggaraan IMF-WBG di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10).

Advertisement

Dia menegaskan, produk UMKM lokal bisa bersaing di pasar internasional jika posisi dalam negerinya sudah kuat. "Adapun cara supaya bisa ngurangi impor salah satunya dengan memperkuat produk lokalnya sendiri," imbuh dia.

Tanggapan Fajrin ini sekaligus membantah anggapan bahwa mayoritas produk di pasar e-commerce Indonesia kini lebih dikuasai oleh barang dari luar negeri.

"Ini juga yang suka miskonsepsi, karena beberapa regulator menganggap bahwa e-commerce itu mayoritas asing, barangnya juga impor. Saya enggak tahu itu data dari mana sebenarnya. Kayak contoh di Bukalapak, kita pernah survei sekilas, itu masih lebih banyak barang lokal," urainya.

Advertisement

"Saya enggak tahu seluruh platform, tapi tetap masih lebih banyak yang lokal," dia menambahkan.

Secara perhitungan, dia menyebutkan, 60 persen pasaran e-commerce dalam negeri masih dikuasai produk lokal, dan hanya 40 persen yang didatangkan dari luar. Akan tetapi, produsen yang ikut langsung berperan di pasaran online saat ini jumlahnya cenderung masih sedikit.

"Untuk yang lokal ini cenderung masih sedikit persentase yang produsen. Jadi banyak juga yang reseller, tapi reseller barang lokal, kayak jualan sambel atau jualan kerajinan lokal," kata Fajrin.

Fajrin menerangkan, pelaku di pasar e-commerce Indonesia bisa diklasifikasikan ke dalam tiga jenis. Pertama yakni reseller barang impor, lalu reseller barang lokal, serta produsen langsung. "Nah ini (produsen langsung) memang masih sedikit. Kalau ngomongin jumlah, berapa sih jumlahnya, mungkin baru sekitar 10-20 persen," papar dia.

Oleh karenanya, dia mengajak pemerintah selaku pembuat regulator untuk coba mengedepankan peran reseller lokal tersebut. "Karena reseller lokal ini merupakan sesuatu yang mungkin bagus juga buat pemerintah, karena dia memberdayakan produsen lokal. Dengan adanya reseller lokal ini, produsen lokal omzetnya juga bisa bertambah," pungkasnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Tebak-Tebakan: Apa brand favorit kaum milenial zaman now?
Tips berbelanja online aman dari Kemenkominfo
Lindungi IKM dalam negeri, Bea Cukai ubah aturan impor barang kiriman via e-commerce
Refeed.id tawarkan solusi jitu buat pelaku bisnis online
DPR minta e-commerce bantu jaga stabilitas Rupiah
Tepat strategi dan inovasi jadi kunci kuasai industri e-commerce dunia

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.