Bos BRI ingin pelaku UMKM bisa diversifikasi usaha ke produksi
Meski begitu, penambahan jumlah KUR juga harus dibarengi dengan peningkatan UMKM di Indonesia.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) hingga Juni 2016 telah mencapai 64 persen dari target Rp 67 triliun. Sementara itu untuk KUR ritel, perusahaan pelat merah ini sudah menyalurkan 100 persen dari target yang ditentukan sebesar Rp 6 triliun.
Melihat hal tersebut, Direktur Utama BRI Asmawi Syam ingin ada penambahan KUR di 2017, mengingat animo masyarakat di sektor UMKM sangat tinggi.
"Tahun depan tentunya kita ingin naik lagi (penyaluran KUR). Kita lihat masyarakat. Misalnya tadinya hanya minjam mungkin Rp 25 juta untuk KUR atau Rp 100 juta untuk KUR ritel, maka mereka bisa meminjam 2 kali lipat atau 1,5 kali lipat," kata Asmawi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (12/7).
Meski begitu, penambahan jumlah KUR juga harus dibarengi dengan peningkatan UMKM di Indonesia. Salah satunya melalui diversifikasi usaha, dari hanya di sektor perdagangan berubah menjadi sektor perdagangan dan produksi.
"Kita ingin ke depan lebih mengembangkan ke sektor produksi. Tidak di perdagangan saja, tapi juga di produksi. Kalau dia ke produksi mungkin dia mendapatkan suatu insentif apa misalnya. Karena kita butuh produksi. Kalau perdagangan kan semua orang bisa dagang," jelasnya.
Dengan demikian, pihaknya akan memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk mulai merambah ke sektor produksi. Jika masyarakat berani untuk merambah ke sektor tersebut, maka BRI mampu memberikan pinjaman KUR yang besar guna meningkatkan UMKM di Indonesia.
"Mungkin kalau dulu kan tidak punya modal, modal saya hanya cukup untuk berdagang. Oke kita kasih modal di samping untuk berdagang, juga berproduksi. Ini proyeksi untuk 3 bulan ke depan ini kita mau mengarahkan masyarakat Indonesia ke mana. Penerima KUR ke mana. Jangan hanya stagnan di situ-situ saja," jelas Asmawi.
(mdk/sau)