Bos BPS: Harga garam naik tak pengaruhi inflasi Juli 2017
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, kelangkaan dan kenaikan harga garam belakangan ini belum memberi pengaruh terhadap inflasi bulan Juli 2017. Menurutnya, kenaikan harga garam tidak akan terlihat pada angka inflasi karena bobot garam hanya sedikit.
Kelangkaan garam terjadi di berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah berdalih, salah satu penyebab kelangkaan garam karena faktor cuaca yang tidak menentu dan menyebabkan pasokan dalam negeri terus menurun.
Menurunnya pasokan dalam negeri kemudian mengakibatkan harga garam melonjak tinggi. Tingginya harga garam tidak menyurutkan niat masyarakat membeli garam, sebab garam masih tergolong kebutuhan utama saat memasak.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, kelangkaan dan kenaikan harga garam belakangan ini belum memberi pengaruh terhadap inflasi bulan Juli 2017. Menurutnya, kenaikan harga garam tidak akan terlihat pada angka inflasi karena bobot garam hanya sedikit.
"Kemarin kan memang harus diakui garam agak langka yah, harga naik, tetapi karena bobot kita menghitung. Bobot garam itu kecil sekali hanya 0,000 sekian jadi tidak kelihatan lah, tidak kelihatan di andil inflasi itu," katanya di Jakarta, Senin (1/8).
Meski tidak memiliki andil besar pada inflasi, harga garam harus tetap di kendalikan. "Garam meskipun bobotnya kecil, tapi ini sesuatu yang penting, kita masak apapun enggak pakai garam gimana mau bisa, Tapi saya kira harga akan kembali normal," pungkasnya.
Baca juga:
Gara-gara garam mahal, harga telur asin naik tak karuan
YLKI minta pemerintah waspada, garam mahal permainan importir nakal
Garam langka, PT GAS diisukan jual garam campur batu dan kaca
Pedagang kaget, kenaikan harga garam baru pertama kali terjadi
Menko Darmin soal impor garam: Situasinya sudah terlanjur sulit