Bos BKPM: Investasi di daerah perbatasan Rp 60 T, masih rendah
"Meski investasinya rendah, namun pertumbuhan investasi di daerah perbatasan ini tinggi. Sehingga saya yakin masih banyak potensi yang bisa dikembangkan."
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong mengakui investasi di daerah perbatasan Indonesia masih kecil, yakni hanya Rp 60 triliun selama 5 tahun. Angka ini masih kecil jika dibandingkan dengan investasi nasional Rp 590 triliun.
Dengan demikian, dia berharap agar Kementerian dan Lembaga (K/L) di pusat dan daerah bisa saling bersinergi di meningkatkan investasi di daerah perbatasan. Hal ini mengingat, masih banyak potensi yang bisa dikembangkan, baik dari potensi alam, kebudayaan, hingga sumber daya manusia.
"Meski investasinya rendah, namun pertumbuhan investasi di daerah perbatasan ini tinggi. Sehingga saya yakin masih banyak potensi yang bisa dikembangkan,"kata Thomas di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (1/12).
Menurutnya, potensi dari wilayah perbatasan baik di Indonesia Timur maupun Barat memiliki karakternya masing-masing. Hal ini dipengaruhi oleh bisnis model yang sesuai dengan peluang bisnis di daerah masing-masing.
"Kalau di Atambua potensinya itu bisnis retail, hiburan, jasa. Di Kalimantan mungkin bisa industri ringan. Di Natuna, Morotai mungkin lebih ke perikanan dan wisata. Jadi tugas kita untuk menemukan formula spesifik untuk berbagai daerah," imbuhnya.
Baca juga:
Cerita Jokowi soal pandangan investor dunia pada bisnis di Indonesia
Kementerian desa & PDT undang 300 pengusaha investasi di perbatasan
Arab Saudi bangun komplek industri senilai Rp 1.248 triliun
Bos BKPM sebut aksi 2 Desember tak pengaruhi investasi Tanah Air
Membongkar dampak demo 2 Desember dan ketakutan pengusaha Tanah Air