Bos Bank Indonesia Ingin Petani dan Nelayan Masuk E-commerce
Perry mengatakan, sejauh ini ada sekitar 60 juta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia. Jumlah tersebut secara keseluruhan belum masuk ke dalam e-commerce.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menginginkan petani dan nelayan mulai memanfaatkan sistem perdagangan secara elektronik atau e-commerce untuk menjual produknya. Dengan demikian, nelayan dan petani semakin mudah menjangkau pasar.
"Belum lagi bagaimana dari petani, dari nelayan, dari perdagangan kecil bisa disambungkan. Kalau kecil kan mereka disambungkan, kalau sekarang masih jualan ke pasar tradisional," ujar Perry di Gedung Dhanapala, Jakarta, Rabu (4/9).
Perry mengatakan, sejauh ini ada sekitar 60 juta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, belum seluruhnya masuk ke dalam e-commerce untuk memasarkan produknya.
"UMKM kita ada 60 juta, yang tentu saja ini menjadi pasar untuk pasarnya e-commerce dan pasarnya fintech. Yang ini, yang terus dikembangkan," jelasnya.
Tingkat penggunaan internet dan smartphone yang semakin meningkat menjadi daya pikat untuk masuk ke dalam e-commerce. E-commerce juga menjadi salah satu cara untuk mendorong tingkat inklusi keuangan yang kini masih sekitar 51 persen.
"Dari sisi peluang ekonominya, indeks inklusi keuangan kita itu baru 51 persen, jadi masih hampir 49 persen belum tersentuh dunia keuangan dan ini adalah peluang untuk kita kembangkan baik fintech maupun e-commerce," jelasnya.
Sementara itu, perkembangan ekonomi digital dipercaya akan menjadi penyokong perekonomian Indonesia juga dunia melalui mekanisme penciptaan pekerjaan baru (job creation) di masa mendatang. Hingga 2016, ekonomi digital berkontribusi sekitar 22 persen terhadap perekonomian global.
"Di dalam era digital ini, pekerjaan akan cepat sekali berubah. Ada yang tinggal dan tidak muncul lagi, ada yang baru, dan ada yang muncul lagi. Nah fintech adalah job masa depan yang terus diciptakan," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution ditempat yang sama.
Perekonomian digital di Indonesia pun berkembang pesat, seperti tercermin dari jumlah pengguna smartphone dan internet yang semakin banyak dari tahun ke tahun. Pada 2018, pengguna smartphone sudah mencapai 133 persen dari populasi, dan pengguna internet sudah mencapai 56 persen dari populasi.
"Hal ini menunjang perkembangan dari ekonomi digital di nusantara ini. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan akan meningkat pesat pada 2025 di mana nilai pasarnya akan mencapai USD 100 miliar," jelas Menko Darmin.
Perkembangan ekonomi digital seperti fintech ke depannya, tentunya tidak bisa lepas dari beberapa tantangan, seperti fenomena winner takes all seperti yang terjadi pada perkembangan e-commerce sejauh ini, adanya kemungkinan penyalahgunaan data pribadi pengguna layanan, serta risiko pencucian uang.
"Jadi, diperlukan ekosistem yang baik antara lembaga keuangan dan regulator. Dalam hal ini, regulator harus memahami lansekap, ekosistem, dan dinamika industri fintech terlebih dahulu, sebelum mengeluarkan kebijakan dan peraturan," paparnya.
Regulator, lanjut Menko Darmin, juga harus menjalankan risk management yang bagus guna memberikan ruang bagi perusahaan fintech untuk berinovasi. "Di sini risk management sebaiknya tidak terlalu longgar ataupun ketat, sehingga inovasi tetap akan berjalan," tuturnya.
Baca juga:
Bulan September, Aplikasi Ini Beri Promo Menarik
30 Persen Produk Kecantikan di Sociolla Milik Anak Bangsa
Sociolla Raup Pendanaan Rp567 Miliar, Salah Satunya dari Temasek
Dipasarkan Online, Penjualan Produk UMKM Bakal Terus Tumbuh
Deretan E-commerce dengan Transaksi Tertinggi di Indonesia
Menteri Sri Mulyani Minta Bayar Pajak Bisa Semudah Membeli Pulsa