LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Bos Bappenas Akui Banyak Produk Impor di Platform E-Commerce Dalam Negeri

Padahal jika diperhatikan, produk-produk impor tersebut sebenarnya dapat dihasilkan di dalam negeri oleh pelaku industri dalam negeri.

2018-12-05 16:00:53
E-commerce
Advertisement

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengingatkan bahwa perkembangan ekonomi digital salah satunya lewat e-commerce tetap harus dihadapi dengan hati-hati. Jangan sampai platform e-commerce dalam negeri justru dipenuhi oleh produk-produk impor.

Mantan Menteri Keuangan ini mengakui bahwa saat ini pertumbuhan barang impor di platform e-commerce masih cukup tinggi.

"Coba perhatikan barang konsumsi yang diimpor menjadi tinggi, pertumbuhannya sekarang lebih dari 20 persen. Salah satu alasan karena mereka ke e-commerce," kata dia dalam acara 'High Level Policy Round Table on Manufacturing Sector Review, di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (5/12).

Advertisement

Padahal jika diperhatikan, produk-produk impor tersebut sebenarnya dapat dihasilkan di dalam negeri oleh pelaku industri dalam negeri. "Kapan-pun Anda ke e-commerce, anda bisa menemukan dengan mudah produk impor. Bahkan produk yang bisa kita buat. Bukan produk yang terlalu rumit yang tidak bisa diproduksi Indonesia," jelasnya.

Karena itu, dia mengatakan pemerintah akan terus berupaya mendorong perkembangan industri dalam negeri sehingga dapat menekan jumlah produk impor. "Jadi kita harus memastikan bahwa kita dapat mengambil keuntungan dari pertumbuhan ekonomi digital, dengan menggunakan produk lokal."

"Juga mengoptimalkan suplai dari industri lokal untuk pengadaan pemerintah, saya pikir sudah tahu bahwa di Indonesia ada kebijakan TKDN," sambungnya.

Advertisement

Berbagai upaya revitalisasi industri akan terus didorong, sehingga industri domestik baik berskala besar maupun IKM dapat menghasilkan produk berkualitas serta mampu bersaing.

"Jadi bukan hanya soal menambah presentase (penggunaan bahan lokal), tapi lebih dari itu merevitalisasi manufaktur hingga ke level IKM. Jika kita tidak punya industri kecil dan menengah yang kuat, maka kita akan sulit bersaing dengan negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea yang mengembangkan kapasitas industri tidak hanya perusahaan besar tapi juga usaha kecil dan menengah," tegasnya.

Baca juga:
BPS Masih Kesulitan Kumpulkan Data Transaksi E-Commerce
5 Jurus Lepas dari Kecanduan Belanja Online
Banjir Diskon di Akhir Tahun, Ini Tips Agar Tidak Tertipu
Mataharimall.com Tutup Layanan
6 Fakta Mengejutkan Ekonomi Digital ASEAN, Bernilai Lebih Dari PDB 100 Negara Dunia
150 Komunitas Bukalapak Jabodetabek Rayakan 3 Tahun Kebersamaan

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.