LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Boeing Patuhi Rekomendasi KNTK soal Kecelakaan Lion Air di Laut Karawang

Sejak terjadinya kecelakaan ini, pesawat 737 MAX dan perangkat lunaknya telah melalui pemeriksaan, pengujian, dan analisis tingkat global yang paling ketat sepanjang sejarah.

2019-10-26 12:00:00
Lion Air Jatuh
Advertisement

Produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS), Boeing menanggapi hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terhadap kecelakaan Lion Air Penerbangan JT 610 yang jatuh di laut Karawang beberapa waktu lalu.

Presiden & CEO Boeing, Dennis Muilenburg mengapresiasi setinggi-tingginya kepada KNKT Indonesia atas upaya yang luar biasa dalam menentukan fakta-fakta dalam kecelakaan ini, dan faktor-faktor yang turut berkontribusi sebagai penyebab serta rekomendasi-rekomendasi untuk tujuan kita bersama agar peristiwa ini tidak terulang kembali.

"Kami akan mengikuti rekomendasi keselamatan KNKT, dan mengambil langkah untuk meningkatkan keselamatan pesawat 737 MAX untuk mencegah kondisi kontrol kemudi terbang yang terjadi saat kecelakaan ini tidak terulang kembali. Keselamatan merupakan nilai yang kami utamakan di Boeing dan keselamatan pengguna jasa penerbangan, pelanggan kami, dan kru yang bertugas pada pesawat terbang kami selalu menjadi prioritas utama kami. Kami menghargai kemitraan dengan Lion Air yang sudah berlangsung lama dan berharap dapat terus bekerja bersama di masa depan," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Advertisement

Dia mengungkapkan, para pakar Boeing yang bekerja sebagai penasihat teknis untuk Badan Keselamatan Transportasi Nasional(NTSB) Amerika Serikat telah memberikan dukungan kepada KNKT sepanjang proses investigasi. Para engineer Boeing tengah bekerja bersama Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat dan para regulator lainnya dari seluruh dunia untuk mengembangkan pembaruan perangkat lunak dan perubahan lainnya, dengan mempertimbangkan informasi dari hasil investigasi KNKT.

Sejak terjadinya kecelakaan ini, pesawat 737 MAX dan perangkat lunaknya telah melalui pemeriksaan, pengujian, dan analisis tingkat global yang paling ketat sepanjang sejarah. Hal ini mencakup ratusan sesi simulator dan uji terbang, analisis pemenuhan ketentuan regulasi terhadap ribuan dokumen, pemeriksaan oleh para regulator dan pakar independen serta persyaratan sertifikasi yang ekstensif.

Selama beberapa bulan terakhir, Boeing telah menerapkan beberapa perubahan terhadap pesawat 737 MAX.Yang paling signifikan, Boeing telah mendesain kembali cara sensor sudut serang (Angle of Attack, AoA) bekerja dengan fitur perangkat lunak kontrol kemudi terbang yang dikenal dengan Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (Maneuvering Characteristics Augmentation System, MCAS).

Advertisement

Rekomendasi KNKT

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menerbitkan enam rekomendasi keselamatan untuk Boeing. Rekomendasi ini disampaikan berdasarkan kesimpulan atas hasil investigasi jatuhnya Lion Air PK-LQP di Tanjung Karawang, 29 Oktober 2018 silam.

Kepala Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo tidak menyampaikan secara rinci enam rekomendasi tersebut. Meskipun demikian, dia mengatakan salah satu poin rekomendasi terkait perbaikan assessment oleh Boeing atas produk baru.

"Terkait asumsi-asumsi yang mereka gunakan, terkait assesment desain baru," kata dia di Kantor KNKT, Jakarta, Jumat (25/10).

"Intinya ke Boeing masalah gimana mereka melakukan assesment, kajian-kajian, dan asumsi itu yang perlu diperbaiki, dilakukan dengan lebih akurat," sambungnya.

Investigasi KNKT menemukan bahwa salah satu penyebab kecelakaan, yakni pilot tidak terinformasi soal fitur baru pada Boeing 737 Max, yakni Maneuvering Characteristics Augmentation System alias MCAS.

Sebagai informasi, MCAS adalah fitur yang baru ada di pesawat Boeing 737-8 (MAX) untuk memperbaiki karakteristik angguk (pergerakan pada bidang vertikal) pesawat pada kondisi flap up, manual flight (tanpa auto pilot) dan AOA tinggi.

Proses investigasi menemukan bahwa desain dan sertifikasi fitur ini tidak memadai, juga pelatihan dan buku panduan untuk pilot tidak memuat informasi terkait MCAS.

"Jadi saat mereka lakukan training dari pesawat tipe sebelumnya ke 737 MAX, tidak ada informasi mengenai MCAS di dalam buku panduan pilot. Sehingga pilot sama sekali tidak memiliki informasi tentang apa itu MCAS," ungkapnya.

"Hal ini tentu menyulitkan pada saat MCAS mulai aktif, mereka tidak bisa mengenali gejala ini disebabkan oleh sistem apa," imbuhnya.

Atas dasar itu, pihaknya merekomendasikan pada Boeing agar penetapan asumsi harus lebih mempertimbangkan kemampuan pilot pada umumnya. KNKT menilai asumsi Boeing ditetapkan berdasarkan ketrampilan test pilots yang dimiliki Boeing.

"Karena test pilots memang pada jago-jago. Kan Pilot pada umumnya itu tidak sejago test pilots. Mereka (Boeing) diminta membuat asumsi yang lebih membumi," tandasnya.

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.