Boediono ingin lembaga pemerintah belajar dari masa lalu
Menurutnya, suatu lembaga akan lebih cerdas jika bisa mengakumulasi pengalaman secara sistematis, yang bisa digunakan oleh pelaksana pemerintahan secara berkesinambungan.
Kementerian Keuangan menggelar seminar nasional yang membahas Tantangan Pengelolaan APBN dari masa ke masa. Di mana para Menteri Keuangan dan berbagai periode hadir dalam seminar ini, yakni Sri Mulyani, Boediono, dan Muhammad Chatib Basri.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Boediono mengatakan acara ini sangat penting, mengingat laju kehidupan tidak akan pernah lepas dari masa lalu. Sehingga, sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk mempelajari masa lalu guna menentukan strategi dalam menghadapi tantangan di masa depan.
"Saat ini ada mesin makin lama makin cerdas. Karena ada sistem alogaritme yang membuat mesin bisa belajar dari pengalaman. Masa lembaga yang isinya manusia terpilih itu tidak bisa melakukan ini," kata Boediono di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (30/11).
Untuk itu, Menteri Keuangan periode 2001-2004 ini mengimbau agar lembaga pemerintahan di Indonesia bisa belajar dari masa lalu. Menurutnya, suatu lembaga akan lebih cerdas jika bisa mengakumulasi pengalaman secara sistematis, yang bisa digunakan oleh pelaksana pemerintahan secara berkesinambungan.
Khususnya bagi pejabat di Kementerian Keuangan saat ini, akan sangat penting untuk mempelajari bagaimana pemerintah terdahulu dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Terlebih lagi, bagaimana cara pemerintah mengelola keuangan pada zaman krisis moneter 1998.
"Sesuatu peristiwa kadang jadi ulangan dari masa lampau. Ada yang belum diselesaikan lalu muncul lagi. Ada yang baru tapi intinya sama dengan yang lama. Kalau ini bisa dipelajari, didokumentasikan, dan diakses secara berkelanjutan maka akan sangat membantu pekerjaan dari suatu institusi," imbuhnya.
Baca juga:
IOI tingkatkan kapasitas SDM dan kembangkan kendaraan pedesaan
KEIN sebut kebijakan BI dorong UMKM jadi backbone ekonomi nasional
Rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp 13.518 per USD
Bos BKPM sebut aksi 2 Desember tak pengaruhi investasi Tanah Air
Jokowi berkelakar siap ajari Donald Trump soal Tax Amnesty
Rupiah ditutup merosot ke level Rp 13.560 per USD
Rupiah ditutup merosot ke level Rp 13.560 per USD
Depan puluhan CEO, Jokowi banggakan telah hapus subsidi BBM